Tanjung Redeb

Hilirisasi Jadi Kunci, Dinas Perikanan Berau Genjot Pengembangan Ikan Kaleng Dongkrak Nilai Ekonomi Perikanan

14
×

Hilirisasi Jadi Kunci, Dinas Perikanan Berau Genjot Pengembangan Ikan Kaleng Dongkrak Nilai Ekonomi Perikanan

Sebarkan artikel ini


BERAUPEDIA.COM – Potensi perikanan Kabupaten Berau yang mencapai 104.915 ton per tahun dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Dari total potensi tersebut, hasil perikanan yang masuk ke sektor pengolahan baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya 3,6 persen, sehingga peluang peningkatan nilai ekonomi masih terbuka lebar.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Perikanan mulai menggenjot program hilirisasi hasil perikanan.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah Program Hilir Berau dengan mengembangkan produk ikan kaleng sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan lokal.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan besarnya potensi perikanan harus diikuti perubahan pola pemanfaatan hasil tangkapan.

Selama ini, sebagian besar hasil laut Berau masih dipasarkan dalam bentuk ikan segar sehingga nilai ekonominya belum optimal.

“Dengan potensi yang ada, kami melakukan langkah inovasi,” ujar Abdul Majid.

Menurutnya, pengembangan industri pengolahan menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing sektor perikanan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.

“Selama ini hanya produk ikan segar. Kini kami mengembangkan produk olahan,” katanya.

Melalui Program Hilir Berau, Dinas Perikanan menyiapkan strategi terintegrasi untuk mendorong pengembangan industri pengalengan hasil perikanan premium.

Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai industri pengolahan hasil laut.

Berdasarkan proyeksi proyek perubahan yang disusun, hilirisasi diperkirakan mampu meningkatkan nilai ekonomi produk perikanan hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan penjualan dalam bentuk bahan mentah.

Tidak hanya itu, pendapatan pelaku UMKM pengolahan ikan juga diproyeksikan meningkat signifikan, dari rata-rata sekitar Rp8 juta menjadi Rp29 juta per bulan apabila industri pengolahan berkembang sesuai target.

Abdul Majid menegaskan, manfaat hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru, menarik investasi, memperkuat daya saing UMKM, serta memperluas pasar produk perikanan Berau hingga tingkat regional maupun nasional.

“Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, memberikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan Dinas Perikanan Berau. Menurutnya, hilirisasi merupakan fondasi penting dalam membangun industri perikanan yang berdaya saing.

“Kami mengapresiasi pemilihan hilirisasi ini,” ujarnya.

Irhan berharap Program Hilir Berau tidak berhenti sebagai proyek perubahan semata, melainkan terus dikembangkan menjadi program pembangunan yang berkelanjutan. Dengan demikian, hasil perikanan Berau tidak lagi didominasi penjualan dalam bentuk segar, tetapi dapat diolah di daerah sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

“Jangan hanya menjadi parade proyek perubahan,” pungkasnya.

Melalui hilirisasi, Pemkab Berau berharap sektor perikanan tidak hanya menjadi penghasil komoditas mentah, tetapi mampu tumbuh sebagai industri berbasis pengolahan yang meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *