
BERAUPEDIA.COM – Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengapresiasi inisiatif Yayasan Sekolah Tanah Indonesia yang menghadirkan ruang diskusi kolaboratif untuk mendorong pengembangan Kopi Liberika Kalimantan Timur.
Kegiatan tersebut mempertemukan unsur pemerintah, petani kopi, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga media di Kampung Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Jumat (25/7/2026) lalu.
Dalam sambutannya, Gamalis menekankan pentingnya membangun ekosistem kopi lokal yang kuat sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ekonomi daerah.
Sebelum acara dimulai, ia bahkan mencicipi kopi Liberika khas Berau tanpa gula dan mengaku terkesan dengan cita rasanya.
“Tadi saya rasakan, kopinya oke, ada masam-masamnya, tanpa gula. Jadi katanya kalau minum kopi itu jangan pakai gula. Kalau sudah pakai gula itu sudah bukan kopi lagi,” ujarnya.
Gamalis mengatakan, secangkir kopi yang dinikmati masyarakat menyimpan proses panjang yang penuh ketekunan. Ia mencontohkan perjuangan seorang petani lokal, Ibu Helmina, yang sejak 1989 secara konsisten menanam, merawat, memanen, hingga mengolah kopi secara mandiri.
Menurutnya, pengembangan kopi tidak hanya berbicara soal tren maupun cita rasa, tetapi juga berkaitan dengan masa depan kesejahteraan petani, pembangunan desa, pelestarian lingkungan, serta diversifikasi ekonomi daerah.
“Hari ini kopi belum terlalu booming terkait penanamannya, meski penikmat kopi sangat menjamur dan hampir di setiap sudut jalan ada kedai kopi yang menjual produk luar. Karena itu, pertemuan hari ini menjadi momentum membangun gagasan besar bersama para petani dan praktisi,” katanya.
Gamalis menyebut Kabupaten Berau memiliki potensi sumber daya alam yang selama ini didominasi sektor pertambangan, perkebunan, perikanan, dan pariwisata.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen mengembangkan komoditas pertanian bernilai tambah, termasuk kopi Liberika, sebagai salah satu penopang diversifikasi ekonomi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menilai pembangunan ekosistem kopi harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Langkah tersebut meliputi penyediaan bibit unggul, pendampingan intensif kepada petani, peningkatan kualitas pengolahan pascapanen, penguatan kelembagaan petani, pembangunan identitas dan branding Kopi Liberika Berau, hingga perluasan akses pasar melalui promosi yang berkelanjutan.
Menurut Gamalis, pendampingan menjadi sangat penting mengingat lahan pertanian di Berau kini banyak berdampingan dengan kawasan pertambangan dan perkebunan skala besar. Karena itu, dukungan dari seluruh pemangku kepentingan dibutuhkan agar budidaya kopi tetap berkembang.
Ia berharap kolaborasi yang telah dibangun melalui forum tersebut dapat terus berlanjut dan menghasilkan program pendampingan yang nyata bagi petani.
Dengan demikian, Kopi Liberika Berau diharapkan mampu menjadi produk unggulan yang tidak hanya dikenal di Kalimantan Timur, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional sebagai kebanggaan baru Kabupaten Berau (bp).













