
beraupedia.com – Pembatalan kegiatan Manutung Jukut 2026 oleh Pemerintah Kabupaten Berau di tengah kondisi cuaca ekstrem dan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai memunculkan pertanyaan mengenai nasib agenda budaya dan pariwisata lainnya yang telah masuk dalam kalender kegiatan daerah.
Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Berau menjadi salah satu daerah di Kalimantan Timur yang mendapat perhatian serius terkait potensi karhutla.
Kondisi panas dan minimnya curah hujan meningkatkan risiko munculnya titik api, sehingga setiap kegiatan yang berpotensi menimbulkan sumber api tentu membutuhkan pertimbangan matang.
Pembatalan Manutung Jukut sendiri dinilai sebagai keputusan yang dapat dimaklumi. Tradisi yang identik dengan kegiatan membakar atau mengolah ikan dalam jumlah besar tentu memiliki risiko tersendiri ketika kondisi lingkungan sedang sangat kering.
Namun, pembatalan satu agenda tidak serta-merta berarti seluruh kegiatan daerah harus mengalami nasib yang sama.
Salah satu agenda yang kini menjadi perhatian adalah Berau Ethno Carnival (BEC) 2026, yang sebelumnya telah masuk dalam kalender pariwisata Berau 2026 dan direncanakan menjadi salah satu rangkaian kegiatan besar dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Berau pada September mendatang.
Sejumlah tokoh masyarakat berharap kegiatan tersebut tetap dapat dilaksanakan dengan melakukan penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan risiko karhutla.
Salah satu opsi yang mengemuka adalah menggelar Berau Ethno Carnival (BEC) pada malam hari. Selain memberikan suasana berbeda, pelaksanaan malam hari dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurangi paparan panas dan menyesuaikan kondisi lingkungan.
Meski demikian, perubahan waktu pelaksanaan tentu tidak boleh hanya menjadi solusi administratif. Aspek keselamatan harus tetap menjadi pertimbangan utama.
Pengamanan lokasi, kesiapan petugas, akses kendaraan pemadam, instalasi listrik, kepadatan penonton hingga larangan penggunaan api terbuka perlu dipastikan sebelum kegiatan dilaksanakan.
Dengan kata lain, yang dibutuhkan bukan sekadar pilihan “digelar atau dibatalkan”, tetapi keberanian untuk mencari format kegiatan yang lebih aman.
Apalagi, pemerintah daerah saat ini tengah mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penopang ekonomi Berau di tengah upaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan.
Karena itu, pembatalan kegiatan akibat faktor keselamatan sebaiknya tidak dipandang sebagai kemunduran pariwisata.
Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa penyelenggaraan event di Berau mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan.
Manutung Jukut boleh dibatalkan karena alasan keselamatan. Tetapi bukan berarti seluruh denyut budaya dan pariwisata Berau harus berhenti.
Jika kondisi memungkinkan, Berau Ethno Carnival dapat menjadi contoh bagaimana sebuah event budaya tetap hidup dengan format yang lebih aman, terukur dan sesuai dengan situasi.
Kini keputusan berada di tangan pemerintah daerah: apakah kondisi karhutla akan membuat agenda budaya lainnya ikut dihentikan, atau justru mendorong lahirnya inovasi penyelenggaraan event yang lebih adaptif terhadap kondisi alam.
Yang jelas, keselamatan masyarakat harus tetap menjadi pertimbangan pertama. Sementara semangat menjaga budaya dan menggerakkan pariwisata jangan sampai ikut padam (bp).













