
BERAUPEDIA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus memperkuat pengembangan Kecamatan Gunung Tabur sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya unggulan di Kabupaten Berau.
Tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, pemerintah daerah juga menitikberatkan pelestarian warisan Kesultanan Gunung Tabur, pengembangan ekonomi kreatif, serta pemberdayaan pelaku UMKM.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menegaskan, Gunung Tabur memiliki nilai sejarah yang besar sehingga harus dikembangkan dengan mengangkat identitas budaya yang dimilikinya.
“Gunung Tabur harus dikembangkan dengan menonjolkan sejarah dan budayanya. Peninggalan kesultanan, ekonomi kreatif, UMKM, hingga pelayanan dasar akan menjadi fokus pembangunan tahun ini,” ujar Sri Juniarsih, beberapa waktu lalu.
Gunung Tabur Miliki Sejarah Panjang Kesultanan Berau
Dalam catatan sejarah, Kesultanan Gunung Tabur lahir pada awal abad ke-19 sebagai pecahan dari Kesultanan Berau akibat perselisihan pewaris takhta. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Gunung Tabur membentang hingga sebagian Kalimantan Utara dan berbatasan dengan Brunei Darussalam.
Istana Kesultanan Gunung Tabur memang sempat hancur akibat serangan Sekutu pada tahun 1945. Namun, Pemerintah Kabupaten Berau membangunnya kembali pada tahun 1990 dan meresmikannya sebagai Museum Batiwakkal pada 1992.
Kini, museum tersebut menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Berau yang menyimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti meriam kuno, singgasana kesultanan, hingga beragam benda peninggalan kerajaan yang menjadi daya tarik wisata edukasi.
Tradisi Budaya Gunung Tabur Masih Terjaga
Selain menyimpan warisan sejarah, Gunung Tabur juga dikenal sebagai daerah yang masih mempertahankan tradisi budaya secara turun-temurun.
Beberapa tradisi yang masih rutin dilaksanakan di antaranya Baturunan Parau, yaitu tradisi gotong royong menurunkan perahu ke sungai, serta ritual Manyandru yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Menurut Sri Juniarsih, pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pariwisata.
“Tradisi ini kami lestarikan dengan dukungan Pemkab Berau. Jadi bukan hanya sejarah tertulis, tetapi juga praktik budaya yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan,” katanya.
Pasar Barambang Jadi Pusat Kuliner dan UMKM Berau
Sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, Pemkab Berau juga mengembangkan Pasar Barambang yang berada di kawasan tepi Sungai Gunung Tabur, tidak jauh dari Museum Batiwakkal.
Sejak awal 2026, pasar tersebut rutin beroperasi setiap Sabtu dan Minggu malam dengan menghadirkan berbagai kuliner khas Berau, jajanan tradisional nusantara, serta produk unggulan UMKM lokal.
Keberadaan Pasar Barambang diharapkan mampu menjadi destinasi wisata malam sekaligus ruang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kabupaten Berau.
Infrastruktur Gunung Tabur Terus Ditingkatkan
Selain pengembangan sektor pariwisata dan budaya, Pemerintah Kabupaten Berau juga melanjutkan pembangunan berbagai infrastruktur pendukung di Kecamatan Gunung Tabur.
Program pembangunan yang menjadi prioritas meliputi peningkatan jalan, pembangunan drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, penyediaan sistem air minum, hingga pembangunan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
Melalui berbagai program tersebut, Pemkab Berau menargetkan Gunung Tabur berkembang sebagai kawasan bersejarah yang tetap lestari, sekaligus menjadi destinasi wisata modern yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat (bp).









