
| Oleh : MasJhon
BERAUPEDIA.COM – Jauh sebelum jalan menuju pesisir Berau ramai dilalui manusia, ketika hutan masih dipenuhi nyanyian burung enggang dan embun pagi belum tersentuh jejak kaki pemburu, hiduplah sebuah legenda yang hanya diceritakan para tetua kepada anak cucunya.
Konon, di tengah rimbunnya hutan terdapat sebuah danau yang airnya begitu jernih hingga langit seolah memiliki cermin di bumi. Danau itu kini dikenal sebagai Danau Labuan Cermin.
Pada setiap malam purnama, ketika bulan berada tepat di atas danau, tujuh bidadari dipercaya turun dari kahyangan. Mereka datang tanpa suara, hanya diiringi semilir angin dan harum bunga hutan.
Sayap-sayap mereka memancarkan cahaya kebiruan yang memantul di permukaan air. Saat mereka menyentuhkan kaki ke danau, air yang semula tenang berubah berkilau seperti ribuan berlian.
Para bidadari mandi sambil tertawa lembut. Konon, tawa mereka menjelma menjadi riak-riak kecil yang hingga kini membuat air danau tampak hidup, meski angin sedang berhenti berembus.
Salah seorang bidadari bernama Nuraya, yang paling muda di antara mereka, sangat mencintai bumi Berau. Ia sering berlama-lama memandangi hutan, burung, dan ikan-ikan yang berenang di bawah permukaan air sebening kaca.
Ketika tiba saatnya kembali ke kahyangan, ia merasa berat meninggalkan tempat itu.
Sebelum pergi, ia berdoa kepada Sang Pencipta :
“Biarlah tempat ini menjadi pengingat bahwa surga pernah menyentuh bumi. Siapa pun yang datang dengan hati bersih akan melihat keindahan yang tak mudah dilupakan.”
Sejak saat itulah, air danau dipercaya menjadi sangat jernih. Dasarnya tampak begitu jelas seolah tidak ada batas antara langit dan bumi.
Masyarakat kemudian meyakini bahwa kejernihan air itu adalah pantulan cahaya selendang para bidadari yang tertinggal sebagai hadiah bagi manusia.
Ada pula cerita bahwa lapisan air tawar di permukaan dan air asin di bagian bawah merupakan dua dunia yang tidak pernah saling mengganggu—sebagaimana dunia manusia dan dunia para bidadari yang hanya dipisahkan oleh sebuah cermin bening.
Konon, pada malam-malam tertentu, ketika bulan purnama bersinar terang dan suasana benar-benar sunyi, terdengar alunan nyanyian yang sangat halus dari tengah danau. Tidak semua orang dapat mendengarnya. Hanya mereka yang datang dengan niat menjaga alam, bukan merusaknya.
Para tetua kampung pun selalu berpesan :
“Jika engkau datang ke Labuan Cermin, jangan tinggalkan sampah, jangan merusak pepohonan, dan jangan menyakiti makhluk yang hidup di dalamnya. Sebab, siapa yang menjaga danau ini, akan pulang membawa kedamaian. Namun siapa yang merusaknya, hanya akan melihat air biasa tanpa keajaiban.”
Hingga kini, tidak ada yang dapat membuktikan apakah para bidadari benar-benar pernah turun ke Danau Labuan Cermin.
Namun, setiap orang yang datang selalu membawa pulang cerita yang sama:
“Airnya terlalu jernih untuk dipercaya. Seolah-olah memang pernah menjadi tempat para bidadari mandi.”
Mungkin, keajaiban terbesar bukanlah melihat bidadari itu sendiri.
Melainkan menyaksikan bahwa di Kabupaten Berau masih ada sebuah tempat yang begitu indah, hingga siapa pun yang melihatnya akan percaya bahwa surga pernah singgah di sana (bp).
*) MasJhon adalah Penulis Karya Fiksi yang berdomisili di Berau, 08/07/2026













