
beraupedia.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau terus meningkatkan pemantauan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi cuaca yang kering disertai ratusan titik panas turut meningkatkan risiko kebakaran sekaligus memicu munculnya kabut asap.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, mengatakan kondisi kabut asap saat ini cukup beragam di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan, jarak pandang di Kabupaten Berau berkisar antara 1,2 hingga 6 kilometer.
Kawasan Tanjung Redeb relatif lebih jernih pada siang hari, meski kabut asap masih terlihat samar pada pagi hari. Sementara itu, Kecamatan Pulau Derawan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena ditemukan cukup banyak titik api.
Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Tabalar. Dalam dua hari terakhir, kebakaran lahan dilaporkan sempat merambat hingga mendekati permukiman warga dan Kantor Kecamatan Tabalar.
Selain itu, titik api juga terpantau di wilayah Sambaliung, Kelay dan Segah.
Masyhadi menyebut kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Berau diduga kuat berasal dari kebakaran yang terjadi di dalam wilayah kabupaten tersebut.
“Kabut asap ini diduga kuat berasal dari kebakaran di dalam wilayah Berau sendiri, bukan kiriman dari luar daerah,” ujar Masyhadi.
Berdasarkan hasil pemantauan, tercatat sebanyak 452 titik panas di Kabupaten Berau. Dari jumlah tersebut, 21 titik memiliki tingkat keyakinan tinggi berpotensi menjadi titik kebakaran.
Meski demikian, BPBD masih melakukan verifikasi lapangan. Pasalnya, keberadaan titik panas yang terdeteksi tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh lokasi tersebut telah mengalami kebakaran.
Sebagian besar kebakaran yang ditemukan terjadi di lahan dengan kondisi tanah kering, disusul kawasan lahan gambut. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan api.
BPBD bersama instansi terkait terus melakukan pengecekan terhadap titik-titik yang terdeteksi, termasuk menindaklanjuti laporan dari masyarakat maupun petugas di tingkat kampung.
Di tengah meningkatnya kabut asap, BPBD Berau hingga kini belum mencatat adanya peningkatan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Meski terdapat informasi mengenai sedikit peningkatan gangguan pernapasan, data lebih rinci mengenai kondisi kesehatan masyarakat masih akan dikonfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Berau.
Sementara dalam proses pemadaman, petugas menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses menuju lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air, serta keterbatasan personel dan peralatan.
Kondisi semakin berat ketika kebakaran muncul secara bersamaan di beberapa lokasi sehingga personel dan peralatan harus dibagi untuk menangani titik-titik api.
Pemerintah Kabupaten Berau telah mengajukan bantuan pemadaman dari udara melalui water bombing serta dukungan rekayasa cuaca kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Upaya rekayasa cuaca untuk mendatangkan hujan telah dilakukan selama lima hari berturut-turut. Namun, dampaknya hingga kini belum dirasakan secara signifikan.
Sementara bantuan pemadaman dari udara masih menunggu penjadwalan karena sejumlah daerah lain juga tengah menghadapi karhutla dengan skala lebih luas.
BPBD Berau bersama instansi terkait terus menyiapkan berbagai langkah untuk menekan dampak karhutla terhadap masyarakat.
Apabila kualitas udara semakin memburuk, pemerintah juga menyiapkan kemungkinan penyesuaian kegiatan belajar siswa melalui kebijakan belajar dari rumah (BDR).
Masyarakat diminta menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih dan membatasi aktivitas di luar rumah. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia.
BPBD Berau juga telah menyalurkan bantuan pelindung pernapasan melalui jaringan penanggulangan bencana hingga ke wilayah pelosok sebagai bentuk perlindungan awal bagi masyarakat yang terdampak kabut asap.
Masyhadi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan, lahan maupun sampah di tengah kondisi cuaca yang sangat kering.
Warga juga diminta memastikan puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang karena sumber api sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran dan dengan cepat meluas.
Perusahaan yang memiliki kawasan operasional di Berau turut diminta meningkatkan pengawasan dan patroli di wilayah masing-masing.
Setiap pihak diharapkan meningkatkan kewaspadaan karena kelalaian yang menyebabkan kebakaran dapat berdampak luas dan memiliki konsekuensi hukum.
Masyarakat yang menemukan asap maupun titik api baru juga diminta segera melaporkannya kepada BPBD Berau melalui kanal media sosial resmi maupun layanan cepat yang tersedia.
“Ingatlah, mencegah dan memadamkan bencana ini adalah tugas kita semua,” kata Masyhadi.
Selain karhutla, BPBD Berau mulai mewaspadai tanda-tanda kekeringan pada lahan pertanian di wilayah Labanan. Kondisi tersebut menjadi perhatian agar langkah mitigasi dapat dilakukan sejak dini sebelum dampaknya semakin meluas (bp).













