Tanjung Redeb

Disbudpar Berau Dorong Budaya Jadi Kekuatan Baru Pariwisata Berkelanjutan

21
×

Disbudpar Berau Dorong Budaya Jadi Kekuatan Baru Pariwisata Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa (bp)


beraupedia.com – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong penguatan kebudayaan sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Keindahan alam dinilai akan memiliki nilai lebih ketika dipadukan dengan cerita, tradisi dan karya budaya masyarakat setempat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan budaya memiliki peran penting dalam membangun identitas sekaligus memperkuat daya tarik sebuah destinasi.

“Pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam. Harus berjalan beriringan dengan penguatan kebudayaan, karena budaya inilah yang memberikan identitas dan karakter terhadap sebuah destinasi,” ujar Yudha.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Disbudpar Berau bersama Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) dalam program “Dalling & Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya”.

Tari Baliu Dalling

Program tersebut menjadi ruang untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya Berau ke dalam karya seni yang tidak hanya memiliki nilai edukasi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu hasil program tersebut adalah lahirnya tiga motif batik yang terinspirasi dari kekayaan kawasan Derawan dan Maratua, yakni Bokko’ Lumangi, Buung Embal Naban, dan Goyak.

Ketiga motif tersebut merupakan interpretasi terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya yang berkembang di kawasan pesisir Berau.

Kehadirannya diharapkan dapat menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus produk kreatif yang dapat dikenalkan kepada wisatawan.

Tidak hanya batik, program tersebut juga menghadirkan kembali Tari Baliu Dalling melalui proses riset budaya, pengembangan koreografi hingga aransemen musik.

Penggarapan tari tetap mempertahankan akar nilai budaya masyarakat Bajau sehingga tidak sekadar menjadi sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga dan menghidupkan kembali warisan budaya lokal.

Yudha menilai pengembangan produk budaya seperti batik dan seni tari penting untuk memperluas daya tarik pariwisata Berau.

Wisatawan tidak hanya ditawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman mengenal cerita, tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.

“Ketika budaya dikembangkan dengan baik, manfaatnya bukan hanya untuk pelestarian. Karya budaya juga bisa menjadi bagian dari promosi pariwisata dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Program Dalling & Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya resmi diluncurkan pada 30 Juli 2026 melalui acara Peluncuran Program Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta.

Program tersebut mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiaraya yang dikelola LPDP.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya, identitas daerah serta pemberdayaan masyarakat melalui karya-karya budaya.

Bagi Disbudpar Berau, lahirnya tiga motif batik serta revitalisasi Tari Baliu Dalling merupakan langkah awal untuk memperluas cara memperkenalkan Berau kepada publik.

Berau tidak hanya memiliki Derawan dan Maratua dengan panorama alamnya, tetapi juga memiliki kekayaan cerita, tradisi dan karya budaya yang dapat menjadi bagian dari identitas destinasi.

Dengan menggabungkan kekuatan alam dan budaya, Berau diharapkan mampu membangun pariwisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya daerah (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *