Tanjung Redeb

150 Ton Sampah Diproduksi Setiap Hari, Gamalis Ingatkan Berau Dalam Ancaman Persoalan Lingkungan

26
×

150 Ton Sampah Diproduksi Setiap Hari, Gamalis Ingatkan Berau Dalam Ancaman Persoalan Lingkungan

Sebarkan artikel ini


BERAUPEDIA – Persoalan sampah di Kabupaten Berau mulai menjadi perhatian serius. Dengan volume mencapai sekitar 54.568 ton per tahun atau setara 150 ton setiap hari, persoalan persampahan dinilai tidak bisa lagi dipandang sebatas urusan kebersihan lingkungan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut angka tersebut merupakan gambaran nyata kondisi persampahan di Bumi Batiwakkal yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius dari seluruh pihak.

Menurutnya, volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah maupun masyarakat untuk segera melakukan perubahan dalam pola pengelolaan sampah.

“Ini bukan angka yang main-main. Jangan lagi dijadikan potret statistik semata. Ini sudah menjadi potret realitas kita di lapangan. Hari ini sampah sudah dapat menjadi alarm bagi Kabupaten Berau dan masyarakatnya,” tegas Gamalis.

Ia menilai, salah satu persoalan mendasar yang menyebabkan sampah terus menumpuk adalah kebiasaan masyarakat yang masih menerapkan pola pengelolaan konvensional, yakni ambil, angkut, lalu buang.

Pola tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi produksi sampah yang mencapai ratusan ton setiap hari. Sebab, pendekatan yang hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan tidak menyelesaikan persoalan dari sumbernya.

Selama sampah hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus segera dibuang, tanpa upaya mengurangi, memilah, dan mengolahnya, maka beban pengelolaan sampah akan terus meningkat.

Gamalis menegaskan, perubahan pola pengelolaan harus dimulai dari kesadaran masyarakat. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri menghadapi persoalan tersebut tanpa dukungan dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

“Pola pikir masyarakat kita hari ini masih berputar pada ambil, angkut, buang. Ini pola konvensional yang harus mulai kita ubah,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah rumah tangga, pemilahan berdasarkan jenisnya, hingga pengolahan sampah yang masih memiliki nilai manfaat.

Dengan produksi sampah mencapai sekitar 150 ton per hari, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak.

Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, peningkatan volume sampah berpotensi semakin membebani sistem pengelolaan persampahan daerah.

Gamalis berharap persoalan ini menjadi perhatian bersama. Sebab, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah tangga.

Besarnya volume sampah yang dihasilkan setiap hari menjadi pengingat bahwa Berau membutuhkan perubahan nyata.

Bukan sekadar memperbanyak armada pengangkut atau tempat pembuangan, tetapi membangun budaya baru agar sampah dapat dikurangi dan dikelola sebelum menjadi beban lingkungan (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *