Tanjung Redeb

Targetkan Juara, Paguyuban Maharani Lamongan Berau Usung Budaya Kalimantan Dan Jawa Di Berau Ethno Carnival 2026

374
×

Targetkan Juara, Paguyuban Maharani Lamongan Berau Usung Budaya Kalimantan Dan Jawa Di Berau Ethno Carnival 2026

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com – Paguyuban Maharani Lamongan Berau siap ambil bagian dalam Berau Ethno Carnival 2026 yang digelar Sabtu, 26 September 2026.

Membawa perpaduan budaya Kalimantan dan Jawa, paguyuban tersebut menargetkan penampilan terbaik dalam ajang budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb.

Ketua Paguyuban Maharani Lamongan Berau, Ali Suhartawan, mengatakan konsep pertunjukan yang disiapkan mengangkat sejumlah karakter dan simbol budaya yang memiliki makna filosofis.

Perpaduan unsur Kalimantan dan Jawa tersebut akan dituangkan melalui kostum, karakter, serta penampilan para peserta.

Menurut Ali, terdapat enam karakter utama yang akan ditampilkan, yakni Garuda, Burung Enggang, Putri Bangsawan, Putri Keraton, Putri Jawa, dan Seniman.

“Konsep yang kami tampilkan merupakan perpaduan budaya Kalimantan dan Jawa. Masing-masing karakter memiliki makna dan filosofi yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat melalui Berau Ethno Carnival 2026,” ujar Ali.

Karakter Garuda menggambarkan sosok satria yang gagah dan berani dalam menghadapi berbagai ancaman yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Burung Enggang mengangkat simbol yang erat dengan masyarakat Dayak. Karakter ini menggambarkan kebesaran, kemuliaan dan kesucian.

Sayapnya yang tebal dan kokoh dimaknai sebagai simbol kepemimpinan, sedangkan ekor yang panjang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Burung Enggang juga dikenal sebagai simbol kesetiaan terhadap pasangan dan dipercaya masyarakat Dayak sebagai penghubung spiritual antara manusia dan alam.

Konsep pertunjukan juga menghadirkan karakter Putri Bangsawan yang menggambarkan keanggunan, keagungan, kesucian serta nilai etika dan tata krama luhur yang berasal dari tradisi istana dan budaya.

Selanjutnya, Putri Keraton merepresentasikan kehalusan budi, penjaga kebudayaan dan nilai-nilai luhur, kesopanan serta kesabaran dalam bertutur kata. Karakter tersebut juga menggambarkan sosok yang mampu membawa diri dengan anggun.

Adapun Putri Jawa menggambarkan keanggunan, kelembutan, tata krama serta keteguhan jiwa.

Sosok ini membawa nilai perempuan Jawa yang menjunjung tutur kata lembut, kebijaksanaan dalam berpikir, keharmonisan hidup dan kasih sayang.

Sementara karakter Seniman dimaknai sebagai sosok yang menggunakan elemen visual maupun bentuk untuk menyampaikan sebuah ide atau makna yang lebih dalam, termasuk hal-hal yang tidak dapat dilihat secara langsung.

Ali mengatakan seluruh konsep tersebut disiapkan tidak sekadar untuk menjadi tontonan, tetapi juga sebagai media untuk memperkenalkan keberagaman budaya kepada masyarakat.

“Kami ingin penampilan ini bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan dan nilai budaya yang bisa dikenalkan kepada masyarakat,” katanya.

Paguyuban Maharani Lamongan Berau berharap penampilan yang telah dipersiapkan dapat memberikan warna dalam Berau Ethno Carnival 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya melalui kreativitas masyarakat.

Dengan konsep perpaduan budaya Kalimantan dan Jawa tersebut, Paguyuban Maharani Lamongan Berau menargetkan mampu memberikan penampilan maksimal dan bersaing dalam ajang Berau Ethno Carnival 2026 (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *