Tanjung Redeb

Pakan Mandiri Berbahan Lokal Dikembangkan Di Batu-Batu, Biaya Produksi Bisa Dipangkas

32
×

Pakan Mandiri Berbahan Lokal Dikembangkan Di Batu-Batu, Biaya Produksi Bisa Dipangkas

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com – Harga pakan menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha budi daya ikan. Kondisi tersebut mendorong Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mengembangkan pakan mandiri berbahan baku lokal di Kampung Batu-Batu.

Program tersebut saat ini masih dalam tahap percontohan. Namun, berdasarkan perhitungan awal, pakan yang diracik menggunakan bahan lokal berpotensi menekan biaya produksi secara signifikan dibandingkan pakan pabrikan.

Kepala Bidang Budi Daya Diskan Berau, Budiono, mengatakan pakan mandiri dibuat dari bahan yang relatif mudah diperoleh di daerah.

Tiga bahan utama yang digunakan yakni tepung ikan atau ikan reject, dedak, dan tepung tapioka sebagai bahan perekat.

Ikan reject diperoleh dari Tanjung Batu dengan harga sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.

“Bahan utamanya ikan reject, dedak, dan tapioka,” kata Budiono.

Dari racikan tersebut, biaya pembuatan pakan diperkirakan hanya sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Angka itu jauh di bawah harga pakan komersial yang saat ini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Selisih harga tersebut menjadi salah satu alasan Diskan mendorong pengembangan pakan mandiri, terutama untuk membantu menekan biaya produksi pembudidaya di kawasan lingkar tambang.

Meski demikian, Diskan belum akan menerapkan pakan tersebut secara luas. Pengujian masih dilakukan untuk mengetahui efektivitasnya terhadap pertumbuhan ikan sekaligus memastikan kandungan nutrisi yang dibutuhkan tetap terpenuhi.

“Sekarang masih kami uji untuk melihat hasil dan kandungan gizinya,” ujarnya.

Jika hasil pengujian memenuhi standar, teknologi pembuatan pakan tersebut akan ditransfer kepada para pembudidaya.

Masyarakat nantinya diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi mampu memproduksi pakan secara mandiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Pengembangan program juga melibatkan pihak swasta dan pemerintah kampung untuk membangun ekosistem budi daya secara menyeluruh, mulai dari penyediaan benih hingga pemasaran hasil produksi.

Diskan dan pihak swasta akan mendukung penyediaan benih, sementara pembudidaya mendapat pendampingan dalam pembuatan pakan.

Di sisi lain, pemerintah kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) diarahkan mengambil peran dalam pemasaran hasil budi daya.

Potensi pasar dari sektor pariwisata di sekitar Kampung Batu-Batu juga akan dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran hasil produksi.

Budiono berharap pola tersebut dapat membuat usaha budi daya ikan di Batu-Batu semakin mandiri.

Selain menekan biaya produksi, program ini diharapkan mampu membentuk rantai usaha mulai dari produksi pakan, budi daya hingga pemasaran di tingkat kampung.

“Kalau uji cobanya berhasil, cara pembuatannya akan kami transfer ke pembudidaya,” pungkasnya (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *