
beraupedia.com – Sultan Gunung Tabur, PYM Adji Raden Muhammad Bakhrun, menghadiri acara Baturunan Perau di Museum Keraton Batiwakkal Gunung Tabur, Sabtu (19/9/2026).
Baturunan Perau merupakan tradisi warisan budaya suku Banuwa yang mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah.
Tradisi tersebut juga menggambarkan hubungan harmonis masyarakat dengan alam. Salah satunya terlihat dalam proses pemindahan perahu yang berukuran dan berbobot besar sehingga tidak dapat dilakukan seorang diri.
Sultan Gunung Tabur, PYM Adji Raden Muhammad Bakhrun, mengatakan Baturunan Perau bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Banua.
“Baturunan Perau bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Melalui tradisi ini, kita melihat bagaimana masyarakat Banuwa sejak dahulu membangun kekuatan bersama dalam menjalankan setiap kegiatan,” ujarnya.
Menurutnya, proses Baturunan Perau menjadi gambaran bahwa pekerjaan besar dapat diselesaikan melalui kebersamaan dan saling membantu.
“Perahu yang berat tidak mungkin dipindahkan oleh satu orang. Karena itu, Baturunan Perau mengajarkan bahwa sesuatu yang besar dapat dilakukan apabila kita bersama-sama, saling membantu dan menjaga kebersamaan,” katanya.
Ia berharap tradisi tersebut terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda agar tidak kehilangan jati diri budaya masyarakat Banua.
“Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda. Jangan sampai budaya yang menjadi identitas masyarakat Banuwa hanya menjadi cerita, tetapi harus terus hidup dan dilaksanakan dari generasi ke generasi,” pungkasnya.
Pelaksanaan Baturunan Perau diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat kebersamaan masyarakat serta memperkenalkan kekayaan tradisi Gunung Tabur kepada generasi muda dan masyarakat luas (bp).













