
BERAUPEDIA.COM – Pemerintah Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terus mengoptimalkan potensi kawasan karst Goa Halo Tabung sebagai destinasi wisata edukasi geologi. Selain menyuguhkan panorama alam yang eksotis, kawasan ini juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran mengenai proses pembentukan bumi sekaligus memperkuat upaya pelestarian lingkungan.
Camat Maratua, Ashari, mengatakan Goa Halo Tabung memiliki nilai ilmiah yang tinggi karena menyimpan jejak proses geologi yang berlangsung selama ribuan tahun. Menurutnya, destinasi tersebut tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga berpotensi menjadi lokasi penelitian bagi kalangan akademisi dan pemerhati lingkungan.
“Keberadaan gua karst ini tidak hanya sekadar menawarkan keindahan pesona alam semata, tetapi juga difungsikan menjadi laboratorium hidup yang sangat kaya akan nilai edukasi tentang sejarah pembentukan bumi kita,” ujarnya, Sabtu.
Goa Halo Tabung yang berada di Kampung Payung-Payung memiliki karakteristik geologi yang unik. Di dalamnya terdapat kolam alami memanjang dengan air payau berwarna kebiruan yang tetap jernih sepanjang waktu, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ashari menjelaskan, keajaiban alam tersebut terbentuk melalui proses pelarutan batu kapur oleh air hujan yang mengandung karbon dioksida. Proses alami yang berlangsung sangat lama itu membentuk cekungan menyerupai tabung dengan kedalaman sekitar 25 meter.
“Melalui proses pelarutan batuan di sepanjang retakan dan celah tanah secara perlahan tersebut, alam pada akhirnya membentuk sebuah cekungan mengerucut ke bawah hingga mencapai kedalaman sekitar 25 meter,” jelasnya.
Keunikan lainnya terletak pada ekosistem air payau di dalam gua yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut. Meski berada di daratan, kolam alami di Goa Halo Tabung tetap terhubung dengan laut melalui celah-celah batuan di bawah permukaan.
Menurut Ashari, letak gua yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai membuat sirkulasi air berlangsung secara alami sehingga kualitas dan ketersediaan air di dalam kolam tetap terjaga.
“Jarak bibir daratan gua dengan laut lepas yang hanya terpaut sekitar 50 meter membuat volume ketersediaan air di dalam kolam selalu terjaga kelestariannya secara alami sepanjang waktu,” katanya.
Tak hanya menyimpan keunikan geologi, Goa Halo Tabung juga memiliki nilai budaya yang kuat. Nama “Halo Tabung” berasal dari bahasa Suku Bajau, di mana “Halo” berarti laguna, sedangkan “Tabung” merujuk pada jenis ikan kakap atau ikan tompel yang menjadi hasil tangkapan nelayan setempat.
Ashari menilai penggunaan nama lokal tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat pesisir sekaligus memperkenalkan identitas kebaharian Maratua kepada wisatawan.
“Penyematan identitas bahasa lokal pada nama situs geologi ini menjadi cara efektif kami untuk terus merawat warisan tradisi lisan serta identitas kebaharian masyarakat pesisir Maratua,” ujarnya.
Melalui pengembangan wisata berbasis edukasi, Pemerintah Kecamatan Maratua berharap para pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam Goa Halo Tabung, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga ekosistem kawasan karst yang memiliki nilai ekologis tinggi.
“Kami sangat berharap setiap wisatawan yang datang tidak cuma berlibur menikmati keindahan airnya, tetapi pulang membawa tambahan wawasan baru tentang betapa pentingnya menjaga ekosistem kawasan karst ini,” pungkas Ashari.
Pengembangan Goa Halo Tabung sebagai destinasi wisata edukasi geologi diharapkan semakin memperkuat posisi Maratua dan Kabupaten Berau sebagai kawasan wisata unggulan yang memadukan keindahan alam, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal dalam satu destinasi berkelas dunia (bp).



