Tanjung Redeb

Kabut Asap Dan Suhu 37,8 Derajat Celsius Melanda Berau, BMKG Imbau Warga Waspada

20
×

Kabut Asap Dan Suhu 37,8 Derajat Celsius Melanda Berau, BMKG Imbau Warga Waspada

Sebarkan artikel ini

beraupedia.com Kondisi cuaca panas disertai kabut dan asap masih melanda sejumlah wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat jarak pandang di sekitar Bandara Kalimarau berada pada kisaran 2 hingga 4,5 kilometer akibat kabut, asap, dan fenomena udara kabur atau haze.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi, didampingi Prakirawan Cuaca BMKG Berau, Ivan Rizki, saat diwawancarai Tim Liputan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Berau, Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan pemantauan BMKG, keberadaan asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah Berau. Kabut, asap, dan haze yang dipengaruhi partikel kering halus di udara terpantau sejak pagi hingga malam hari.

Di tengah kondisi tersebut, suhu udara di Berau tercatat mencapai 37,8 derajat Celsius. Angka ini bahkan sempat menjadi salah satu suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia.

Sementara itu, arah angin terpantau bervariasi dari timur laut hingga barat laut dengan kecepatan antara 0 hingga 11 kilometer per jam.

BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap untuk menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kondisi udara memburuk, serta terus memantau perkembangan informasi cuaca.

Prakirawan Cuaca BMKG Berau, Ivan Rizki, menjelaskan kondisi panas dan minimnya hujan saat ini dipengaruhi dinamika atmosfer serta sisa pengaruh El Nino.

Meski demikian, kondisi tersebut belum masuk kategori kemarau panjang maupun kekeringan ekstrem. Secara klimatologis, Kabupaten Berau memiliki karakteristik iklim yang cenderung basah.

Ivan menyebut kondisi kekeringan yang terjadi saat ini juga belum separah kondisi yang terjadi pada 2019.

Potensi hujan ringan masih dapat muncul sesekali, khususnya di kawasan pegunungan. Namun, sebagian besar wilayah Berau belum mendapatkan curah hujan yang signifikan.

Upaya rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah dinilai mulai memberikan dampak positif, salah satunya terlihat dari menurunnya jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Berau.

Namun, efektivitas rekayasa cuaca sangat bergantung pada ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Rekayasa cuaca ibarat pupuk, hanya bisa berfungsi jika tersedia bibit awan,” ujar Ivan.

Menurutnya, saat ini jumlah awan pembawa hujan belum mencukupi sehingga rekayasa cuaca belum mampu menghasilkan curah hujan sesuai yang diharapkan.

BMKG memperkirakan kondisi kemarau masih berlangsung hingga akhir September 2026. Curah hujan yang lebih merata di seluruh wilayah Berau diprediksi baru terjadi setelah periode tersebut.

BMKG juga mengingatkan masyarakat bahwa keberadaan asap dan kabut memiliki kaitan erat dengan aktivitas pembakaran hutan dan lahan.

“Tidak akan ada asap jika tidak ada yang membakar,” tegas Ivan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah. Aktivitas tersebut berpotensi menambah emisi dan memperburuk kualitas udara, terutama ketika kondisi atmosfer relatif kering dan angin bergerak dengan kecepatan rendah.

Masyarakat disarankan mengelola sampah dengan cara yang lebih aman, seperti mengubur atau menggunakan metode pengelolaan lainnya yang tidak menghasilkan asap.

BMKG terus memperbarui informasi terkait titik panas, prakiraan cuaca, serta peringatan gelombang melalui kanal informasi resminya. Masyarakat diimbau aktif memantau perkembangan cuaca, terutama selama periode kemarau masih berlangsung (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *