
beraupedia.com – Nama Dr. Hj. Syarifatul Sya’diah, S.Pd., M.Si., kembali menguat dalam peta politik Kabupaten Berau.
Perempuan kelahiran Malang, 3 Juli 1969, itu kini dipercaya memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Berau periode 2026–2031.
Syarifatul terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Berau yang digelar di Ballroom Hotel Mercure, Tanjung Redeb, Rabu (26/8/2026). Ia menjadi satu-satunya kandidat yang maju dalam pemilihan ketua.
Mandat tersebut sekaligus menambah panjang rekam jejak politik Syarifatul yang selama lebih dari satu dekade berkiprah di parlemen, partai politik, pemerintahan, serta berbagai organisasi kemasyarakatan.
Saat ini, ia juga duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur periode 2024–2029.
Dari Ketua DPRD Berau hingga DPRD Kaltim
Perjalanan politik Syarifatul tidak dibangun dalam waktu singkat.
Karier politiknya berawal dari Kabupaten Berau. Ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Berau periode 2014–2019.
Setelah itu, pada periode 2019–2024, ia kembali menempati posisi strategis sebagai Wakil Ketua I DPRD Berau.
Dua periode tersebut memberinya pengalaman panjang dalam proses legislasi, penganggaran dan pengawasan pemerintahan daerah.
Kariernya kemudian berlanjut ke tingkat provinsi. Pada Pemilu 2024, Syarifatul terpilih sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur dari Dapil Kaltim 6 yang meliputi Berau, Kutai Timur dan Bontang.
Ia meraih 29.497 suara, sekaligus menjadi peraih suara terbanyak di dapil tersebut.
Di internal Golkar, perolehan itu mengungguli sejumlah nama lain, seperti Shemmy Permata Sari dengan 21.761 suara, Apansyah 21.278 suara, dan Budianto Bulang 16.432 suara.
Kini, dua tahun setelah memasuki DPRD Kaltim, Syarifatul kembali menerima mandat penting: memimpin Golkar Berau untuk periode lima tahun ke depan.
Bekal Akademik Hingga Doktor Ilmu Ekonomi
Di balik perjalanan politiknya, Syarifatul memiliki latar belakang pendidikan yang panjang dan lintas bidang.
Ia mengawali pendidikan tinggi di IKIP Negeri Malang dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan ke jenjang magister. Syarifatul meraih gelar Magister Ilmu Ekonomi dari Universitas Mulawarman, Samarinda.
Tidak berhenti di tingkat magister, ia melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya dan meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi.
Ia juga pernah mengikuti Pendidikan Lemhanas RI pada 2019.
Bekal akademik tersebut menjadi bagian dari perjalanan Syarifatul ketika kemudian berkecimpung dalam pemerintahan, legislatif dan politik.
Tidak Hanya di Parlemen
Aktivitas Syarifatul juga tidak terbatas pada dunia politik praktis.
Ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Tim Penggerak PKK Kabupaten Berau periode 2011–2014.
Di internal Partai Golkar, ia pernah dipercaya menjadi Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) DPD Partai Golkar Berau periode 2016–2020.
Pengalamannya juga merambah organisasi pemerintahan daerah melalui ADKASI. Syarifatul pernah menjadi Ketua ADKASI Korwil Kalimantan Timur periode 2015–2019 dan kemudian menjadi Pengurus ADKASI Pusat periode 2019–2024.
Di bidang kemanusiaan, ia pernah dipercaya sebagai Ketua Dewan Penasihat PMI Kabupaten Berau periode 2019–2023.
Sementara di bidang kepemudaan, Syarifatul menjabat Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Berau periode 2021–2026.
Ia juga pernah memimpin Kaukus Perempuan Kabupaten Berau periode 2021–2026, serta menjadi Ketua IKAPAKARTI periode 2021–2026.
Sebelumnya, Syarifatul juga pernah memimpin Paguyuban Arema Berau periode 2016–2021.
Rangkaian jabatan tersebut menunjukkan luasnya ruang pengabdian Syarifatul, mulai dari parlemen, partai politik, organisasi perempuan, kepemudaan hingga organisasi kemasyarakatan.
Membawa Golkar Pada Fase Baru
Kini, sebagai Ketua DPD Partai Golkar Berau periode 2026–2031, Syarifatul memasuki babak baru.
Ia menilai Musda bukan sekadar momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat kembali soliditas organisasi.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader, senior, sesepuh, pengurus sebelumnya, anggota fraksi hingga organisasi sayap untuk bersama-sama membangun konsolidasi.
“Saya tidak bisa sendiri. Saya perlu bantuan. Kita perlu duduk bersama, memecahkan masalah, mencari solusi,” ujar Syarifatul.
Ia juga menekankan bahwa pergantian kepemimpinan tidak seharusnya melahirkan kubu yang menang dan kalah.
“Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Yang menang adalah Partai Golkar, yang menang adalah kebersamaan dan rasa kekeluargaan,” tegasnya.
Ingin Golkar Hadir Sebelum Diminta
Salah satu gagasan utama yang dibawa Syarifatul adalah mengubah cara partai hadir di tengah masyarakat.
Ia tidak ingin Golkar hanya terlihat ketika memasuki tahun politik. Menurutnya, partai harus hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama ketika masyarakat menghadapi persoalan.
“Kita harus menjadi partai yang bekerja sebelum diminta, bergerak sebelum diperintah dan hadir ketika rakyat membutuhkan,” katanya.
Untuk tahap awal kepemimpinannya, terdapat tiga agenda yang menjadi pijakan: memperkuat persatuan kader, memperbaiki kaderisasi, dan menyiapkan kemenangan politik.
Jangkauan kerja partai juga akan diarahkan kepada berbagai kelompok masyarakat, mulai dari nelayan, petani, pelaku UMKM, perempuan, pemuda hingga dunia pendidikan.
Dengan pendekatan tersebut, ia ingin masyarakat mengenal Golkar bukan hanya melalui simbol dan atribut politik, tetapi melalui kerja nyata kader yang dirasakan langsung.
Dukung Pemerintah, Tetap Kritis
Syarifatul juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Berau, DPRD, partai politik, organisasi masyarakat, tokoh agama hingga tokoh adat.
Namun, dukungan terhadap pemerintah tidak berarti menghilangkan fungsi kontrol politik.
Ia menegaskan Golkar akan tetap kritis ketika kebijakan pemerintah menyangkut kepentingan masyarakat.
“Kita akan menjadi kekuatan politik yang kritis ketika kepentingan masyarakat harus diperjuangkan, tetapi juga konstruktif ketika pemerintah membutuhkan dukungan untuk membangun Kabupaten Berau,” ujarnya.
Bagi Syarifatul, politik tidak harus selalu dibangun melalui pertentangan. Partai politik juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mencari solusi terhadap persoalan pembangunan.
Dari kursi Ketua DPRD Berau, Wakil Ketua DPRD, kemudian peraih suara tertinggi di Dapil Kaltim 6, kini Syarifatul Sya’diah berada di posisi baru sebagai nakhoda Golkar Berau.
Lima tahun ke depan akan menjadi ujian sekaligus panggung baru bagi perempuan yang telah melewati perjalanan panjang di politik dan organisasi tersebut.













