Tanjung Redeb

Produksi Perikanan Budidaya Berau Mendekati 2.800 Ton, Berpeluang Lampaui Capaian 2025

7
×

Produksi Perikanan Budidaya Berau Mendekati 2.800 Ton, Berpeluang Lampaui Capaian 2025

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com Produksi perikanan budidaya di Kabupaten Berau menunjukkan tren positif sepanjang 2026.

Hingga Agustus, capaian sementara produksi bahkan telah mendekati 2.800 ton, sehingga Dinas Perikanan (Diskan) Berau optimistis produksi hingga akhir tahun berpeluang kembali melampaui capaian tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan pemerintah daerah pada 2026 menetapkan target produksi perikanan budidaya sebesar 2.300 ton.

Target tersebut berasal dari tiga sektor utama, yakni budidaya air payau, air tawar, dan budidaya laut.

Budidaya air payau menjadi penyumbang terbesar dengan target sekitar 1.200 ton, disusul budidaya air tawar sekitar 600 ton, serta budidaya laut sekitar 400 ton.

“Kalau digabungkan, target air payau dan air tawar mencapai 1.800 ton. Kemudian untuk melengkapi target 2.300 ton, sekitar 400 ton diharapkan berasal dari produksi budidaya laut,” ujar Budiono.

Optimisme Diskan Berau semakin kuat melihat capaian produksi pada 2025. Pada tahun tersebut, produksi perikanan budidaya Berau tercatat sekitar 3.200 ton, atau berada jauh di atas target yang ditetapkan.

Sementara pada tahun ini, capaian sementara sudah mendekati 2.800 ton. Dengan masih tersisanya waktu hingga penghujung tahun, Diskan menilai peluang untuk melewati capaian 2025 masih terbuka.

“Posisi capaian sekarang sudah mendekati 2.800 ton. Jadi kami melihat peluang untuk melewati capaian tahun 2025 masih terbuka, meskipun di lapangan tetap ada sejumlah tantangan,” katanya.

Meski menunjukkan perkembangan positif, sektor perikanan budidaya Berau masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi aktivitas dan produktivitas pembudidaya.

Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Berau juga menjadi perhatian, khususnya terhadap kegiatan budidaya air tawar.

“Untuk air tawar memang ada sedikit penurunan grafik produksinya. Kondisi ekstrem dan dampak karhutla menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap aktivitas budidaya,” jelas Budiono.

Menghadapi kondisi tersebut, Diskan Berau terus memperkuat pendampingan kepada para pembudidaya.

Penyuluhan dan bimbingan teknis dilakukan untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus membantu pembudidaya beradaptasi dengan perubahan kondisi di lapangan.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) juga didorong lebih aktif memberikan pendampingan, termasuk dalam penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembudidaya.

Diskan Berau juga mempertahankan kolaborasi dengan sejumlah mitra pembangunan, di antaranya Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan WWF, terutama dalam pengembangan teknologi budidaya.

Menurut Budiono, upaya pengembangan sektor perikanan tidak hanya diarahkan untuk mengejar peningkatan volume produksi.

Pembudidaya juga perlu memiliki kemampuan dalam memilih dan menerapkan teknologi yang tepat agar usaha dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.

“Kami juga terus mendorong pengembangan budidaya yang tidak terlalu bergantung pada pakan,” ujarnya.

Dengan capaian sementara yang telah mendekati 2.800 ton, produksi perikanan budidaya Berau kini telah melampaui target pemerintah daerah sebesar 2.300 ton.

Jika tren produksi tetap terjaga hingga akhir 2026, capaian tahun ini berpotensi kembali menembus angka di atas produksi 2025.

Di tengah tantangan cuaca ekstrem dan dampak karhutla, penguatan teknologi, pendampingan berkelanjutan, serta kemampuan pembudidaya beradaptasi menjadi kunci menjaga produktivitas perikanan budidaya di Kabupaten Berau (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *