
beraupedia.com – Meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau di tengah kondisi cuaca panas dan kering mulai menimbulkan keprihatinan berbagai pihak.
Munculnya kabut asap di sejumlah wilayah semakin menambah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kebakaran yang dapat mengganggu kesehatan, lingkungan hingga aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian dua kesultanan di Berau, Sultan Sambaliung PYM Datu Amir MA (Sultan Muda Perkasa) dan Sultan Gunung Tabur PYM Adji Raden Muhammad Bakhrun menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ancaman karhutla yang terjadi di tengah kondisi kemarau dan pengaruh fenomena El Niño.
Data pemantauan BMKG dan BPBD menunjukkan ancaman karhutla di Kalimantan Timur memang perlu mendapat perhatian serius.
Pada dasarian I Agustus 2026, BMKG mendeteksi sekitar 4.700 titik panas di Kaltim. Kondisi cuaca panas dan kering juga meningkatkan kerentanan vegetasi serta lahan terhadap kebakaran.
Kedua kesultanan mengimbau masyarakat Berau untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terlebih dalam kondisi cuaca yang semakin kering.
Masyarakat juga diminta menghindari berbagai aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api, termasuk membakar semak, sampah maupun membuka lahan dengan cara pembakaran.
“Jangan sampai kelalaian kecil menjadi bencana besar. Di tengah kondisi seperti sekarang, setiap sumber api harus benar-benar diwaspadai,” demikian pesan kedua Sultan yang disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan Berau.
Imbauan tersebut dinilai penting karena karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat menghasilkan kabut asap yang berdampak terhadap kualitas udara dan kehidupan masyarakat.
Pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait pun diharapkan terus memperkuat pencegahan, patroli dan deteksi dini di wilayah yang rawan kebakaran.
Pemerintah Kabupaten Berau sebelumnya juga telah mendorong keterlibatan perusahaan dalam memperkuat dukungan penanganan karhutla melalui kesiapan sarana dan dukungan lainnya.
Di tengah situasi ini, pesan dari dua kesultanan menjadi pengingat bahwa menjaga hutan dan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Berau.
Mencegah lebih baik daripada memadamkan. Jangan biarkan satu percikan api berubah menjadi bencana yang mengancam Bumi Batiwakkal (bp).













