Tanjung Redeb

Mencari Sang Ratu Adil IKAPAKARTI Berau Setelah Era 2021–2026

48
×

Mencari Sang Ratu Adil IKAPAKARTI Berau Setelah Era 2021–2026

Sebarkan artikel ini

Oleh : Bambang Sudihartono (Wakil Ketua Ikapakarti Berau & Pembina Paguyuban Keluarga Jember/PKJ Berau)


beraupedia.com – Ada masa ketika sebuah organisasi tidak hanya membutuhkan pergantian kepemimpinan, tetapi juga membutuhkan arah baru.

Begitu pula IKAPAKARTI Berau. Setelah melewati periode kepengurusan 2021–2026, pertanyaan yang menarik bukan sekadar siapa yang akan menjadi ketua berikutnya, melainkan figur seperti apa yang dibutuhkan untuk membawa rumah besar keluarga Tanah Jawi itu memasuki babak baru?

Di tengah dinamika organisasi, muncul istilah yang menarik untuk direnungkan: “Sang Ratu Adil.”

Tentu, Ratu Adil di sini bukan gelar resmi, apalagi klaim bahwa seseorang telah ditetapkan sebagai calon pemimpin.

Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai metafora tentang sosok yang diharapkan mampu hadir sebagai pengayom, pemersatu, dan penjaga keseimbangan organisasi.

Sebab IKAPAKARTI bukan sekadar organisasi sosial budaya. Ia adalah rumah besar yang menaungi banyak paguyuban dengan latar belakang daerah, tradisi, karakter, dan kepentingan yang beragam.

Maka pemimpinnya bukan hanya membutuhkan kemampuan administratif.

Ia membutuhkan rasa.

Rasa untuk mendengar. Rasa untuk merangkul. Rasa untuk menghormati para sesepuh. Dan yang paling penting, rasa untuk memastikan tidak ada paguyuban yang merasa berada di luar rumah besar tersebut.

Bukan Sekadar Mencari Ketua

Periode 2021–2026 telah memberikan pengalaman penting bagi perjalanan IKAPAKARTI Berau.

Pada 2024, misalnya, perayaan HUT ke-21 IKAPAKARTI diisi dengan berbagai kegiatan seni budaya, bakti sosial, donor darah, serta Gebyar UMKM yang melibatkan sekitar 70 pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.

Momentum tersebut menunjukkan bahwa IKAPAKARTI dapat menjadi ruang bertemunya budaya, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Karena itu, pergantian periode kepengurusan semestinya tidak dimaknai sebagai sekadar pergantian orang.

Yang lebih penting adalah kesinambungan nilai.

Guyub rukun jangan hanya menjadi slogan.

Gotong royong jangan hanya muncul ketika ada acara.

Dan kebudayaan jangan berhenti sebatas pertunjukan di atas panggung.

IKAPAKARTI membutuhkan kepemimpinan yang mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan organisasi.

Ratu Adil Bukan Figur yang Berkuasa

Dalam perspektif budaya Jawa, sosok pemimpin ideal bukanlah orang yang paling keras suaranya atau paling banyak pendukungnya.

Pemimpin adalah orang yang mampu ngemong.

Mengayomi tanpa merasa lebih tinggi.

Mendengar tanpa harus selalu menang.

Menyatukan perbedaan tanpa menghapus identitas masing-masing.

Karena itu, “Ratu Adil” yang dibutuhkan IKAPAKARTI bukanlah sosok yang datang untuk menguasai organisasi.

Justru sebaliknya.

Ia adalah figur yang mampu membuat seluruh paguyuban merasa dimiliki dan memiliki organisasi.

Di sinilah independensi menjadi penting.

IKAPAKARTI harus tetap menjadi rumah bersama, bukan kendaraan kepentingan kelompok tertentu.

Kedekatan dengan pemerintah boleh dibangun, komunikasi dengan dunia politik boleh dilakukan, dan kerja sama dengan berbagai pihak tentu diperlukan.

Tetapi independensi organisasi harus tetap menjadi fondasi.

Siapa yang Memiliki Modal Itu?

Jika pertanyaan kemudian diarahkan kepada figur yang memiliki pengalaman dan modal sosial untuk diperhitungkan, nama Syarifatul Sya’diah tentu sulit diabaikan.

Ia telah memimpin DPD IKAPAKARTI Berau pada periode 2021–2026. Dalam perayaan HUT ke-21 IKAPAKARTI pada 2024, Syarifatul menyebut perjalanan organisasi sebagai sebuah tonggak sejarah dan menekankan keberhasilan melewati berbagai tantangan dalam menjalankan visi dan misi organisasi.

Di luar organisasi, Syarifatul juga memiliki pengalaman politik dan kelembagaan. Ia dilantik sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur periode 2024–2029 dari daerah pemilihan yang mencakup Berau, Kutai Timur, dan Bontang.

Modal tersebut tentu tidak otomatis menjadikannya “Ratu Adil”.

Justru di situlah letak persoalannya.

Pengalaman adalah modal, tetapi keputusan tetap berada di tangan organisasi.

Siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin IKAPAKARTI Berau harus memperoleh legitimasi melalui mekanisme organisasi yang sah dan diterima seluruh paguyuban.

Karena IKAPAKARTI bukan milik satu figur.

Ia adalah milik bersama.

Babak Baru Membutuhkan Cara Baru

Tantangan IKAPAKARTI ke depan juga semakin kompleks.

Generasi muda mulai memiliki cara pandang berbeda terhadap organisasi. Mereka tidak cukup hanya diajak menghadiri kegiatan seremonial.

Mereka membutuhkan ruang untuk berkarya, berjejaring, mengembangkan ekonomi kreatif, memanfaatkan teknologi, sekaligus mengenal akar budaya leluhurnya.

Maka pemimpin berikutnya harus mampu menjembatani generasi sepuh dan generasi muda.

Mampu berbicara dengan sesepuh menggunakan unggah-ungguh, tetapi juga mampu memahami bahasa generasi digital.

Mampu menjaga wayang, gamelan, campursari, reog, jaranan dan tradisi Jawa, tetapi sekaligus membuka ruang bagi kreativitas anak muda.

Dengan kata lain, IKAPAKARTI tidak boleh hanya menjadi organisasi yang mengenang masa lalu.

Ia harus menjadi organisasi yang menghidupkan masa depan tanpa kehilangan akar budaya.

Yang Dicari Bukan Ratu, Tetapi Pengayom

Pada akhirnya, mungkin istilah “Sang Ratu Adil” terlalu besar untuk dilekatkan kepada seseorang.

Sebab pemimpin organisasi tidak membutuhkan mahkota.

Yang dibutuhkan adalah kepercayaan.

Tidak membutuhkan singgasana.

Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk melayani.

Tidak membutuhkan pengikut yang hanya mengangguk.

Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berani menyampaikan pendapat, sekaligus tetap menjaga persaudaraan.

Maka setelah era 2021–2026, pertanyaan terbesar IKAPAKARTI Berau bukanlah:

“Siapa yang paling kuat?”

Melainkan:

“Siapa yang paling mampu membuat kita tetap guyub?”

Bukan:

“Siapa yang paling berpengaruh?”

Tetapi:

“Siapa yang mampu mengayomi seluruh paguyuban tanpa membeda-bedakan?”

Dan bukan pula:

“Siapa yang paling layak duduk di kursi ketua?”

Melainkan:

“Siapa yang mampu membawa IKAPAKARTI menjadi rumah bersama yang lebih kuat, mandiri, berbudaya, dan relevan bagi generasi berikutnya?”

Jika figur seperti itu benar-benar muncul, mungkin masyarakat tidak perlu menyebutnya Sang Ratu Adil.

Sebab dalam tradisi Jawa, pemimpin yang benar-benar mengayomi biasanya tidak perlu banyak menyebut dirinya sebagai pemimpin.

Ia cukup hadir, bekerja, merangkul, dan membuat orang lain merasa nyaman berada di dalam satu rumah.

Dan mungkin, itulah Ratu Adil yang sesungguhnya dicari IKAPAKARTI Berau setelah era 2021–2026 (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *