
BERAUPEDIA.COM – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa, menyatakan optimisme tinggi terhadap upaya penetapan Geopark Sangkulirang Mangkalihat (GSM) sebagai kawasan Geopark Nasional.
Keyakinan itu didasari pada kekayaan bentang alam karst yang luar biasa, kelengkapan dokumen persyaratan, serta dukungan penuh pemerintah daerah dan masyarakat yang terus dimatangkan menjelang kunjungan penilaian tim nasional.
Diketahui, kawasan Geopark Sangkulirang Mangkalihat membentang luas di ujung timur Pulau Kalimantan, dengan sebagian wilayah terbesar berada di Kabupaten Berau, meliputi Kecamatan Sangkulirang, Mangkalihat, dan sekitarnya. Seluruh tim teknis saat ini terus menyempurnakan berkas dan pemetaan puluhan titik geosite unggulan untuk memastikan tidak ada satu pun persyaratan yang terlewat.
“Kami sangat optimis Geopark Sangkulirang Mangkalihat bisa lolos dan ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Dari sisi kekayaan geologi, hayati, budaya, hingga nilai sejarahnya, kawasan ini sangat layak diakui secara nasional bahkan internasional. Wilayah Berau menjadi bagian terpenting dari kawasan ini, sehingga kami bekerja maksimal memastikan semua persiapan berjalan sempurna,” tegas Yudha Budisantosa.
Lebih lanjut Yudha menjelaskan, upaya pengajuan GSM bukan sekadar mengejar status atau prestise daerah semata.
Ada sejumlah nilai strategis besar yang menjadi tujuan utama, yang manfaatnya akan dirasakan bukan hanya oleh masyarakat Berau, melainkan seluruh Provinsi Kalimantan Timur hingga generasi mendatang.
5 Nilai Strategis Geopark Sangkulirang Mangkalihat
Pertama, melestarikan bentang alam karst yang langka dan memiliki nilai ilmiah tinggi. Yudha menjelaskan, GSM dikenal sebagai salah satu bentang alam karst terluas dan terlengkap di Asia Tenggara, dengan formasi batuan berusia jutaan tahun, ratusan gua alam, sungai bawah tanah, air terjun bertingkat, serta keanekaragaman hayati endemik yang belum banyak terekspos.
Status Geopark Nasional akan menjadi payung hukum kuat untuk melindungi kawasan ini dari ancaman kerusakan akibat aktivitas eksploitasi yang tidak bertanggung jawab.
“Bentang karst Sangkulirang Mangkalihat itu aset tak ternilai bagi bangsa ini. Di dalamnya tersimpan sejarah panjang terbentuknya bumi. Kalau tidak kita lindungi sekarang, bisa hilang ditelan zaman. Status geopark akan menjamin kelestariannya untuk anak cucu kita nanti,” ujarnya.
Kedua, mendorong ekonomi berkelanjutan yang ramah dan tidak merusak lingkungan. Yudha menegaskan, pengembangan GSM tidak akan mengedepankan wisata massal yang berpotensi merusak daya dukung alam.
Konsep yang diusung adalah pariwisata berkelanjutan, di mana setiap aktivitas pengembangan diatur ketat, sehingga tetap menguntungkan secara ekonomi tanpa harus mengorbankan kelestarian ekosistem karst yang sangat rentan.
Ketiga, menjadikan kawasan sebagai laboratorium alam terbuka untuk pendidikan dan penelitian. Selain formasi geologi yang lengkap, kawasan GSM juga menyimpan jejak manusia purba, fosil hewan purba, serta rekaman perubahan iklim jutaan tahun lalu.
Hal ini menjadikan GSM tempat yang sangat ideal bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara untuk mempelajari ilmu kebumian, arkeologi, biologi, hingga ilmu lingkungan secara langsung di lapangan.
“Nilai edukasinya jauh lebih besar daripada sekadar nilai ekonomi jangka pendek. GSM akan jadi ruang belajar terbuka yang tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia,” tambah Yudha.
Keempat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui ekonomi lokal berbasis geopark dan geosite. Yudha menegaskan prinsip utama pengelolaan GSM: masyarakat sekitar harus menjadi aktor utama, bukan sekadar penonton.
Pemerintah daerah telah menyiapkan skema pembinaan, mulai dari pelatihan pemandu wisata lokal, pengelolaan homestay berbasis kearifan lokal, pengembangan UMKM kerajinan dan kuliner khas, hingga skema bagi hasil pengelolaan objek wisata yang langsung menguntungkan warga kampung di sekitar kawasan geopark.
“Jangan sampai geopark jalan, masyarakat tidak merasakan apa-apa. Kami pastikan setiap mata rantai ekonomi dari pengelolaan GSM berputar maksimal di tangan warga lokal,” tegas Kepala Disbudpar itu.
Kelima, menjadikan Provinsi Kalimantan Timur sebagai daerah unggulan dalam konservasi dan pariwisata berkelanjutan.
Yudha menjelaskan, keberhasilan GSM menjadi Geopark Nasional akan melengkapi peta destinasi unggulan Kaltim yang selama ini lebih dikenal dengan wisata bahari di Derawan dan hutan hujan tropis.
Ke depannya, Kaltim akan memiliki tiga pilar wisata andalan yang saling melengkapi: bahari, hutan, dan geopark karst, sekaligus membuktikan bahwa daerah penghasil sumber daya alam ini juga serius menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini akan jadi kebanggaan tersendiri. Kaltim tidak hanya dikenal sebagai lumbung energi nasional, tapi juga daerah yang berhasil menggabungkan upaya konservasi serius dengan pengembangan pariwisata yang menyejahterakan rakyat,” pungkasnya.
Saat ini tim teknis gabungan Disbudpar Berau bersama para ahli geologi, arkeolog, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus melakukan penyempurnaan akhir dokumen master plan pengelolaan Geopark Sangkulirang Mangkalihat.
Jika semua berjalan lancar, penilaian akhir tim nasional dijadwalkan berlangsung pada September 2026, dan penetapan resmi sebagai Geopark Nasional diharapkan bisa diumumkan pada akhir tahun 2026, sebelum dilanjutkan ke tahap pengajuan Geopark UNESCO Global di tahun berikutnya (bp).













