
beraupedia.com – Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan dan pendidikan di Indonesia. Kota ini juga memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan berbagai perguruan bela diri dan tenaga dalam yang tumbuh sejak pertengahan abad ke-20.
Sejumlah catatan sejarah menyebut perkembangan tenaga dalam di Yogyakarta memiliki kaitan dengan Margaluyu, aliran yang dikembangkan Andadinata di Jawa Barat.
Margaluyu disebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat pada 1932, setelah sebelumnya berkembang secara terbatas. Salah seorang murid Andadinata, Dan Suwaryana, kemudian disebut turut membawa dan mengembangkan keilmuan tersebut di Yogyakarta. Dari jalur inilah kemudian berkembang sejumlah perguruan tenaga dalam di Kota Gudeg.
Dalam perkembangannya, Yogyakarta menjadi tempat tumbuhnya berbagai perguruan dengan karakter dan metode masing-masing. Salah satu yang memiliki dokumentasi sejarah cukup jelas adalah Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih.
Merpati Putih secara organisasi berdiri di Yogyakarta pada 2 April 1963. Menurut sejarah yang dipublikasikan Merpati Putih UGM, keilmuan perguruan tersebut berakar dari bela diri keluarga yang kemudian diwariskan oleh R. Sarengat Hadi Poernomo kepada kedua putranya, Poerwoto Hadi Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo.
Pada 1962, kedua putranya mendapat amanat untuk mulai menyebarluaskan ilmu bela diri tersebut kepada masyarakat.
Merpati Putih kemudian berkembang ke berbagai daerah. Pada 1968, cabang pertama di luar Yogyakarta dibuka di Madiun.
Perkembangan berikutnya juga membawa perguruan tersebut berinteraksi dengan lingkungan militer. Pada 1973, Merpati Putih mendapat kesempatan mengikuti penelitian mengenai metode latihan yang melibatkan tenaga ahli dari Fakultas Kedokteran UGM.
Selain Merpati Putih, nama Prana Sakti juga menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan tenaga dalam di Yogyakarta.
Berdasarkan sejarah yang dipublikasikan Prana Sakti Yogyakarta, perkembangan awal perguruan tersebut berkaitan dengan Asfanuddin Panjaitan, mahasiswa Universitas Gadjah Mada pada era Angkatan 66. Saat itu, Asfanuddin bersama sejumlah rekannya mempelajari ilmu bela diri tenaga dalam Prana Sakti dari guru besar yang disebut berdomisili di Yogyakarta. Pada masa tersebut, Prana Sakti belum berbentuk perguruan resmi.
Setelah melalui proses pengembangan, Prana Sakti kemudian mulai dilembagakan. Sumber sejarah perguruan mencatat angkatan pertama Prana Sakti dibuka pada 5 Maret 1975 oleh Drs. Asfanuddin Panjaitan.
Perguruan tersebut kemudian berkembang dengan pendekatan olah pernapasan yang dipadukan dengan nilai-nilai keislaman.
Perkembangan perguruan tenaga dalam di Yogyakarta tidak berhenti pada periode tersebut. Pada dekade 1980-an, muncul pula Satria Nusantara yang kemudian dikenal sebagai salah satu perguruan yang mengembangkan latihan pernapasan dan tenaga dalam.
Sejumlah tulisan sejarah mengenai tenaga dalam bahkan menyebut dari perkembangan Margaluyu dan tokoh-tokoh yang berada di Yogyakarta kemudian muncul berbagai perguruan dengan nama berbeda, termasuk Prana Sakti, Satria Nusantara, Pendawa Padma, Radiasi Tenaga Dalam, Kalimasada, Bunga Islam, Sinar Putih dan sejumlah perguruan lainnya.
Namun, hubungan silsilah masing-masing perguruan tersebut perlu dilihat secara hati-hati karena sebagian besar informasi tersebut berasal dari sumber sekunder dan tulisan komunitas, bukan satu arsip sejarah resmi yang disepakati semua perguruan.
Panjang perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Yogyakarta memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan tenaga dalam di Indonesia.
Mulai dari masuknya berbagai tradisi bela diri, berkembangnya perguruan pada era 1960-an, hingga lahirnya organisasi dengan metode latihan yang lebih terstruktur pada dekade berikutnya.
Karena itu, menyebut salah satu perguruan sebagai “perguruan tenaga dalam tertua di Yogyakarta” membutuhkan batasan yang jelas.
Jika yang dilihat adalah akar keilmuan, Margaluyu memiliki sejarah lebih awal, tetapi berasal dari Jawa Barat.
Jika berdasarkan organisasi yang terdokumentasi berdiri di Yogyakarta, Merpati Putih mencatat tanggal berdiri 2 April 1963.
Sementara Prana Sakti menjadi salah satu perguruan tenaga dalam yang berkembang kuat dari lingkungan Yogyakarta sejak era 1960-an.
Dengan sejarah yang panjang tersebut, Yogyakarta dapat dilihat bukan hanya sebagai pusat kebudayaan dan pendidikan, tetapi juga sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan tradisi bela diri, olah pernapasan dan perguruan tenaga dalam di Indonesia (bp).













