
BERAUPEDIA.COM – Sebagai salah satu kelompok pemilih terbesar dan tersebar merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Berau, keberadaan warga keturunan Jawa selalu menjadi penentu arah kemenangan dalam setiap gelaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Kekuatan suara mereka yang besar dan cenderung kompak menjadikan dukungan kelompok ini selalu diperebutkan oleh setiap pasangan calon.
Kini, seiring berjalannya waktu dan dinamika kondisi daerah yang kian berat, pola dan arah politik warga Jawa di Berau diprediksi akan mengalami perubahan signifikan pada pesta demokrasi mendatang, yakni lebih kritis, rasional, dan mengutamakan bukti kinerja nyata dibanding sekadar kedekatan emosional semata.
Perubahan sikap politik ini terlihat jelas dari pergeseran pola pikir masyarakat. Jika sebelumnya dukungan cenderung mengikuti kesepakatan para tokoh dan paguyuban secara mutlak, kini warga Jawa Berau jauh lebih cerdas dan selektif dalam menentukan pilihan.
Prinsip utama “Wong Jowo Guyub Rukun Saklawase” atau semangat kebersamaan tetap dipegang teguh, namun komitmen itu kini dibarengi dengan pertimbangan mendalam terhadap rekam jejak, program kerja, dan keberpihakan calon kepada nasib rakyat kecil.
Di tengah tekanan ekonomi akibat pemangkasan drastis Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), berkurangnya proyek pembangunan, serta maraknya persoalan sosial seperti judi online dan praktik maksiat, prioritas utama warga Jawa kini tertuju pada satu hal: solusi nyata.
Mereka tidak lagi mudah terbuai janji manis atau seremonial semata. Ukuran keberhasilan dan kelayakan seorang calon pemimpin bagi mereka ditentukan oleh kemampuan membuka lapangan kerja, memeratakan pembangunan hingga ke pelosok desa, memperbaiki akses jalan usaha tani, serta hadirnya kebijakan ekonomi yang memihak pedagang, petani, dan pelaku usaha mikro.
“Wong Jawa itu setia dan ingat jasa, tapi kalau sudah kecewa atau merasa dilupakan saat pemimpin berkuasa, maka sulit untuk kembali percaya. Kami tidak minta diperlakukan istimewa, kami hanya minta diperhatikan, pembangunan merata, dan kami bisa bekerja serta berusaha dengan tenang,” ungkap salah satu tokoh paguyuban.
Menilik arah dukungan ke depan, sejumlah indikasi mulai terlihat.
Pertama, pasangan calon yang memiliki rekam jejak merakyat, sering turun langsung ke tengah masyarakat, hadir dalam kegiatan adat maupun keagamaan, serta dikenal peduli pada desa-desa, diprediksi akan memiliki peluang terbesar.
Kedekatan budaya dan kesamaan latar belakang masih menjadi nilai tambah tinggi, namun bukan lagi satu-satunya penentu; kompetensi dan integritas menjadi syarat mutlak yang tak bisa ditawar.
Kedua, isu transparansi dan keadilan pengelolaan anggaran menjadi sorotan tajam. Isu beredarnya informasi mengenai seleksi jabatan yang dikondisikan maupun pembagian proyek yang hanya berputar di kalangan lingkaran kekuasaan, menjadi hal yang sangat disayangkan dan ditolak keras oleh warga Jawa yang memegang teguh nilai keadilan.
Pasangan calon yang dinilai berpotensi melanjutkan praktik tersebut dipastikan akan kehilangan dukungan massal dari kelompok ini.
Ketiga, dukungan juga akan banyak beralih ke sosok atau pasangan yang mampu menjadi jembatan kebijakan pemerintah pusat ke daerah, demi mengatasi keterbatasan dana daerah saat ini, tanpa mengorbankan kedaulatan dan kepentingan masyarakat Berau.
Pada Pilkada mendatang, suara warga Jawa Berau tetap menjadi kunci emas penentu kemenangan, namun harganya semakin mahal dan sulit didapat. Arah politik mereka mengerucut pada dukungan yang berbasis kinerja, keadilan, dan kedekatan emosional yang tulus.
Bagi pasangan calon yang ingin memenangkan hati masyarakat kelompok terbesar ini, satu-satunya jalan adalah berani turun hingga ke gang-gang sempit, berbicara apa adanya, serta menawarkan solusi konkret yang nyata bagi pemulihan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Pemimpin itu milik rakyat, bukan milik lingkaran dalam kekuasaan. Itu pesan tegas dari warga Jawa di Berau untuk para calon pemimpin masa depan” (bp).













