Tanjung Redeb

Gamalis Dorong Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Bank Sampah Dinilai Punya Potensi Ekonomi

13
×

Gamalis Dorong Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Bank Sampah Dinilai Punya Potensi Ekonomi

Sebarkan artikel ini


BERAUPEDIA – Sampah tidak selamanya menjadi persoalan lingkungan. Di tangan masyarakat yang kreatif dan mampu mengelolanya dengan baik, limbah rumah tangga justru dapat menjadi sumber penghasilan baru.

Peluang inilah yang ingin didorong Wakil Bupati Berau, Gamalis, dalam mengubah pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kabupaten Berau.

Menurut Gamalis, berbagai produk hasil daur ulang yang ditampilkan dalam talkshow bertema sampah bernilai dan wisata lestari menjadi bukti bahwa sampah memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan.

Mulai dari jepit rambut, gantungan kunci hingga berbagai aksesori kreatif lainnya, dapat dihasilkan dari bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Ia menilai, produk hasil daur ulang tersebut tidak seharusnya hanya menjadi pajangan dalam kegiatan pameran atau seremoni. Lebih jauh, produk tersebut perlu dipromosikan secara luas agar dikenal masyarakat dan mampu menembus pasar.

“Ini harus mulai sekarang dipromosikan. Karena produk seperti ini murah, dibuat dari bahan daur ulang, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Selain mendorong kreativitas masyarakat, Gamalis juga menekankan pentingnya penguatan bank sampah sebagai salah satu solusi mengurangi timbunan limbah rumah tangga sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung.

Melalui bank sampah, masyarakat didorong memilah sampah sejak dari rumah, termasuk dari aktivitas sehari-hari di dapur. Sampah yang memiliki nilai ekonomis kemudian dapat disetorkan dan dikonversi menjadi saldo tabungan.

“Artinya, sampah yang tadinya ada di dapur bisa dijadikan uang, menjadi saldo tabungan. Bahkan mungkin bisa menjadi hadiah atau bentuk penghargaan bagi masyarakat,” jelasnya.

Gamalis menegaskan, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah fasilitas pengangkutan maupun tempat pembuangan. Tantangan terbesar justru terletak pada kebiasaan dan kesadaran masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Karena itu, ia mengajak masyarakat mulai meninggalkan pola pikir lama yang menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Sebaliknya, sampah harus dipandang sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.

“Waktunya kita mengubah kebiasaan. Behavior kita harus berubah, dari sampah sebagai musuh menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna, nilai ekonomi, dan manfaat bagi lingkungan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, upaya tersebut perlu menjadi bagian dari kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Gamalis berharap, gerakan pengelolaan sampah di Kabupaten Berau tidak berhenti sebatas kegiatan kampanye atau seremonial. Namun, benar-benar berkembang menjadi kebiasaan masyarakat, mulai dari memilah sampah di rumah hingga mengembangkan produk kreatif bernilai jual.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah di Bumi Batiwakkal diharapkan tidak hanya mampu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mendukung pengembangan wisata yang lebih lestari (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *