Tanjung Redeb

Diskoperindag Bidik Pasar Wisata Maratua, Limbah Kelapa Diolah Jadi Sumber Pendapatan Warga

28
×

Diskoperindag Bidik Pasar Wisata Maratua, Limbah Kelapa Diolah Jadi Sumber Pendapatan Warga

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com – Besarnya aktivitas pariwisata di Kepulauan Maratua, Kabupaten Berau, membuka peluang ekonomi yang tidak hanya bertumpu pada penginapan, restoran, dan jasa wisata.

Potensi kelapa yang melimpah di wilayah tersebut kini didorong menjadi produk kerajinan bernilai jual, dengan harapan belanja wisatawan dapat ikut menggerakkan pendapatan masyarakat lokal.

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau berupaya menghubungkan potensi bahan baku lokal dengan pasar pariwisata melalui pengembangan kerajinan berbahan limbah kelapa.

Strategi ini diarahkan agar masyarakat tidak sekadar menjadi penonton pertumbuhan wisata Maratua, tetapi ikut mengambil bagian dalam perputaran uang yang dihasilkan sektor tersebut.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan kelapa yang melimpah di Maratua memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk kerajinan berciri khas daerah.

Selama ini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dapat dikembangkan menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

“Padahal, potensi kelapanya melimpah. Ini bisa menjadi peluang untuk menghasilkan kerajinan yang memiliki ciri khas daerah dan nilai ekonomi,” ujar Eva.

Untuk membuka peluang tersebut, Diskoperindag Berau telah menggelar pelatihan pengolahan limbah kelapa menjadi berbagai produk, mulai dari gantungan kunci, bros, kalung, tempat tisu, hingga miniatur kapal layar.

Produk-produk tersebut berpeluang menjadi suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Maratua.

Nilai ekonominya bukan hanya terletak pada barang yang dihasilkan, melainkan juga pada peluang membangun rantai usaha yang melibatkan masyarakat sejak pengolahan bahan baku hingga penjualan kepada konsumen.

Dalam skema ini, potensi kelapa lokal menjadi bahan dasar produksi, kelompok pengrajin mengolahnya menjadi barang bernilai tambah, sedangkan Dekranasda dan pengelola resor diharapkan membantu membuka akses pemasaran.

Ketika wisatawan membeli produk tersebut, transaksi itu berpotensi menghadirkan pendapatan langsung bagi pengrajin dan menggerakkan usaha masyarakat.

Dengan demikian, aktivitas pariwisata diharapkan tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi pelaku akomodasi, tetapi juga menciptakan peluang usaha bagi masyarakat yang memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Namun, peluang tersebut membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan. Pengrajin harus mampu menjaga kualitas, memenuhi ketersediaan produk, dan menyesuaikan hasil kerajinan dengan kebutuhan pasar.

Tanpa kesinambungan produksi dan jalur pemasaran yang jelas, potensi bahan baku lokal berisiko tidak berkembang menjadi usaha yang memberikan pendapatan secara berkelanjutan.

Eva menilai, pendampingan menjadi bagian penting agar keterampilan yang telah diperoleh masyarakat tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

“Hasilnya luar biasa. Perlu ada pendampingan agar masyarakat bisa terus mengembangkan keterampilan dan menghasilkan produk secara berkelanjutan,” katanya.

Ia mendorong camat, kepala kampung, dan para pemangku kepentingan di Maratua untuk terlibat dalam mendampingi kelompok pengrajin.

Legalitas kelompok juga perlu diperhatikan agar mereka memiliki kesempatan mengakses bantuan peralatan dari pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Di sisi hilir, Diskoperindag Berau menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) serta pengelola resor di Maratua.

Kerja sama ini diharapkan membuka akses produk kerajinan ke tempat-tempat yang berdekatan langsung dengan wisatawan, sehingga peluang pembelian tidak hanya bergantung pada penjualan di luar kawasan wisata.

Pengelola resor diharapkan tidak sebatas membantu memajang produk, tetapi juga membuka peluang pembelian untuk kebutuhan usaha mereka.

Jika kerja sama tersebut berjalan, pengrajin berpotensi memperoleh saluran penjualan yang lebih terarah, sementara produk lokal mendapat ruang lebih besar untuk masuk ke pasar pariwisata.

“Dengan upaya itu, kerajinan masyarakat bisa memiliki pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Bagi Maratua, pengembangan kerajinan limbah kelapa dapat menjadi salah satu cara memperluas manfaat ekonomi pariwisata.

Bahan baku yang tersedia di lingkungan setempat diolah menjadi produk, produk dipasarkan melalui jaringan usaha wisata, dan pembelian wisatawan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.

Eva berharap masyarakat Maratua dapat menjadi pelaku utama dalam pengembangan ekonomi wisata, bukan hanya bergantung pada peluang kerja yang tersedia di sektor pariwisata.

“Kami ingin masyarakat Maratua menjadi pelaku utama ekonomi wisata. Karena itu, potensi yang ada harus dikembangkan agar bisa memberikan nilai tambah dan pendapatan sehingga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pengembangan kerajinan berbahan limbah kelapa ini pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan membangun hubungan yang berkelanjutan antara pengrajin, pemerintah, Dekranasda, dan pelaku usaha wisata.

Jika produksi dan pemasaran dapat berjalan seiring, belanja wisatawan berpeluang menjadi penggerak usaha lokal, sehingga manfaat ekonomi pariwisata Maratua dapat menjangkau lebih banyak masyarakat (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *