
beraupedia.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mulai menggagas konsep penggabungan berbagai pesta adat yang selama ini digelar secara terpisah menjadi satu event budaya terpadu.
Gagasan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat agenda pariwisata daerah, tetapi juga menjadi momentum menggali kembali warisan budaya yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Berau serta Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan sejarah panjang Berau telah meninggalkan kekayaan seni, budaya, adat dan istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak tahun 1400-an kemudian pada abad ke-19 menjadi dua kesultanan, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung,” ujarnya.
Menurut Yudha, warisan budaya dari dua kesultanan tersebut masih menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya digali dan dikembangkan. Karena itu, diperlukan ruang yang mampu mempertemukan berbagai tradisi tersebut dalam satu rangkaian kegiatan.
“Ke depan kita perlu lagi menggali potensi apa yang bisa kita tampilkan sehingga menjadi satu kesatuan,” katanya.
Ia menilai pengemasan berbagai pesta adat menjadi sebuah event terpadu dapat memperkuat posisi budaya lokal sebagai daya tarik wisata.
Berbagai tradisi yang berkembang di sejumlah wilayah dapat ditampilkan secara lebih menarik tanpa menghilangkan nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat.
Konsep tersebut, lanjutnya, dapat belajar dari pelaksanaan Pesta Adat Erau di Tenggarong yang telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata berskala nasional.
“Kita ingin bagaimana ke depan pesta-pesta adat yang ada di Kabupaten Berau ini dirumuskan kembali untuk menjadi satu,” terangnya.
Namun, pengembangan event budaya tersebut juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman.
Menurut Yudha, pelestarian budaya tidak cukup hanya mempertahankan bentuk kegiatan yang sudah ada, tetapi juga memastikan tradisi tetap relevan dan dapat diterima oleh generasi berikutnya.
“Kalau tidak kita sesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang, kemungkinan kita akan mengalami penurunan ataupun kehilangan seni dan budaya itu sendiri,” katanya.
Selain sebagai ruang pelestarian budaya, event terpadu tersebut diharapkan dapat membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku seni, budaya dan ekonomi kreatif Berau.
Berbagai karya dapat ditampilkan dalam satu panggung sekaligus mempertemukan tradisi yang selama ini berkembang secara terpisah di sejumlah kampung.
Yudha berharap konsep tersebut nantinya mampu memperkuat identitas budaya Berau sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan daerahnya.
“Dengan cara melestarikan melalui suatu event, mudah-mudahan pelaku seni, budaya, dan kreator bisa menampilkan semua kreasinya dan menjadi satu padu,” tandasnya (bp).













