
BERAUPEDIA.COM – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Berau bertekad memperkuat dan memperluas jangkauan pembinaan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelaku Ekonomi Kreatif (Ekraf).
Langkah strategis ini ditempuh guna meningkatkan kualitas produk lokal agar semakin berdaya saing, memiliki ciri khas daerah yang kuat, serta mampu menjadi penopang ekonomi baru di tengah peralihan struktur ekonomi daerah yang perlahan mulai mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan.
Dorongan kuat penguatan peran Dekranasda ini datang langsung dari Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, yang menegaskan bahwa potensi pariwisata daerah yang sangat besar, mulai dari keindahan bahari Kepulauan Derawan hingga kekayaan budaya lokal, harus berbanding lurus dengan ketersediaan produk unggulan buatan anak daerah.
Menurutnya, tingginya angka kunjungan wisatawan ke Berau setiap tahun merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pelaku usaha lokal.
“Setiap tahun puluhan ribu wisatawan datang ke Berau. Ini adalah pasar besar yang ada di depan mata. Dekranasda harus memastikan para pelaku UMKM dan Ekraf kita siap menyediakan suvenir, kuliner khas, kerajinan tangan, hingga jasa kreatif yang tidak hanya dibutuhkan wisatawan, tetapi juga mampu menjadi identitas dan kebanggaan daerah. Produk kita harus bisa dibawa pulang, dikenang, dan dicari orang,” ujar Bupati Sri Juniarsih.
Ketua Umum Dekranasda Berau, Brigjen Pol (Purn) Edy Suswanto, menjelaskan bahwa pola pembinaan yang dilakukan kini telah berubah, tidak lagi sekadar pelatihan sesaat atau seremonial, melainkan pendampingan yang berkelanjutan, terstruktur, dan menyentuh dari hulu hingga ke hilir.
Ada empat pilar utama yang menjadi fokus pembinaan saat ini, yaitu peningkatan kualitas produk dan kemasan, pemanfaatan bahan baku lokal, digitalisasi pemasaran, serta pemenuhan standar dan legalitas usaha.
Dalam peningkatan kualitas dan kemasan, pihaknya berupaya mengubah produk mentah menjadi barang bernilai seni tinggi, rapi, dan layak jual lengkap dengan merek serta kemasan khas Berau.
Sementara itu, pemanfaatan bahan baku lokal seperti rotan, kelapa, serat alam, hingga hasil olahan laut dan sungai terus didorong agar industri kreatif daerah tidak bergantung pada pasokan bahan baku dari luar wilayah.
Selain itu, Dekranasda juga gencar melakukan pelatihan digitalisasi dan pemasaran, melatih para pelaku usaha untuk mempromosikan serta menjual produknya lewat media sosial dan pasar daring, sehingga jangkauan pasar tidak lagi terbatas di wilayah Berau saja.
Tak kalah penting, pendampingan terkait perizinan, sertifikasi halal, dan standar mutu juga diberikan agar produk lokal mampu masuk ke pasar ritel modern, hotel, hingga pameran tingkat provinsi maupun nasional.
Sinergi yang erat juga dibangun bersama Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan UMKM, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Kolaborasi ini bertujuan memastikan produk hasil pembinaan langsung didorong ke lokasi-lokasi strategis, tempat wisata, dan agenda promosi daerah, sehingga adanya dukungan pemerintah benar-benar terasa dampaknya secara ekonomi.
“Target kami satu: mengangkat UMKM dan Ekraf Berau agar naik kelas. Bukan hanya sekadar ada, tapi punya harga diri, dicari konsumen, dan mampu mensejahterakan pembuatnya. Langkah ini juga menjadi jawaban strategis atas tantangan ekonomi ke depan, terutama di tengah isu efisiensi anggaran dan rencana pemutusan hubungan kerja di sektor tambang. Kreativitas dan hasil karya tangan kita adalah modal besar yang tidak akan pernah habis nilainya,” tegas Edy Suswanto (bp).













