Tanjung Redeb

Kerajinan Pandan Berau Mulai Naik Kelas, Bidik Pasar Perkantoran

21
×

Kerajinan Pandan Berau Mulai Naik Kelas, Bidik Pasar Perkantoran

Sebarkan artikel ini


BERAUPEDIA.COM Kerajinan pandan di Kabupaten Berau tak lagi ingin berhenti sebagai produk tradisional. Pemerintah daerah mulai mendorong para pengrajin mengubah kreativitas menjadi produk bernilai ekonomi dan mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk lingkungan perkantoran.

Langkah tersebut dilakukan Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau melalui pendampingan lanjutan bagi 15 pengrajin pandan lokal.

Program ini menjadi kelanjutan dari pelatihan yang sebelumnya digelar melalui kolaborasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau dan PT Pamapersada Nusantara (PAMA).

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, menegaskan pelatihan tidak boleh berhenti sebatas memberikan keterampilan. Pengrajin harus terus didampingi hingga mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki daya saing, dan yang paling penting, punya pasar.

“Ini merupakan lanjutan dari pelatihan yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Kami berkolaborasi dengan Dekranasda Berau dan PT Pamapersada Nusantara untuk memberikan pendampingan kepada para pengrajin pandan,” ujar Eva.

Menurut Eva, pola pengembangan kini mulai bergeser. Pengrajin tidak lagi sekadar membuat produk berdasarkan apa yang bisa mereka kerjakan, tetapi mulai diarahkan untuk membaca kebutuhan konsumen dan peluang pasar.

Tas, kopiah pria, dan berbagai produk kriya berbahan pandan kini dikembangkan dengan desain dan fungsi yang lebih beragam.

Bahkan, pengrajin mulai mencoba membuat cover atau sampul buku kerja yang secara khusus diarahkan untuk kebutuhan perkantoran.

Produk tersebut nantinya akan didorong masuk ke kantor-kantor pemerintah maupun swasta.

Langkah ini dinilai penting karena membuka ceruk pasar baru bagi pengrajin. Produk pandan tidak hanya mengandalkan pembeli perorangan atau pasar ritel, tetapi juga berpeluang masuk sebagai bagian dari kebutuhan pengadaan perkantoran.

“Fokus kami adalah menghasilkan produk yang memang bisa diterima pasar. Saat ini mereka juga mencoba membuat cover buku kerja yang akan kami upayakan pemasarannya ke kantor-kantor pemerintah maupun swasta,” jelas Eva.

Bagi Pemkab Berau, tantangan pengembangan kerajinan lokal bukan hanya bagaimana membuat pengrajin semakin terampil.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut memiliki kualitas, memenuhi kebutuhan konsumen, dan memiliki jalur pemasaran yang jelas.

Karena itu, pendampingan menjadi bagian penting untuk memastikan keterampilan yang diperoleh para pengrajin benar-benar berkembang menjadi kemampuan produksi yang bernilai komersial.

Sebanyak 15 pengrajin mengikuti pendampingan tersebut. Dukungan PAMA juga menjadi bagian penting dalam program ini, termasuk dengan menanggung penuh biaya pelaksanaan pendampingan.

Eva mengapresiasi dukungan tersebut karena dinilai membantu pemerintah daerah meningkatkan kapasitas pelaku kerajinan lokal.

“Kami sangat mengapresiasi dukungan yang diberikan karena membantu meningkatkan kapasitas para pengrajin lokal,” katanya.

Jika pendampingan dilakukan secara konsisten dan diikuti dengan strategi pemasaran yang tepat, kerajinan pandan berpotensi tidak hanya menjadi produk khas daerah, tetapi juga sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

Diskoperindag Berau pun berharap produk pandan hasil karya pengrajin lokal mampu berkembang dari sekadar kerajinan rumahan menjadi produk komersial yang memiliki kualitas, pasar, dan daya saing.

Dari tangan pengrajin lokal, pandan Berau kini didorong bukan hanya menjadi karya, tetapi menjadi komoditas yang menghasilkan (BP).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *