
BERAUPEDIA.COM – Kabupaten Berau dikenal luas sebagai gerbang menuju surga wisata Kalimantan Timur, mulai dari keindahan alam bahari Kepulauan Derawan, kekayaan budaya, hingga potensi ekowisata yang luar biasa.
Namun, di tengah gencarnya promosi dan pembangunan sarana penunjang, satu hal yang kini disepakati semua pihak sebagai penentu utama kenyamanan dan daya tarik pengunjung adalah kebersihan lingkungan.
Pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat sepakat: seindah apa pun alamnya, jika lingkungan kotor dan kumuh, wisatawan enggan kembali dan tak akan merekomendasikan Berau sebagai tujuan liburan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau, Zulkifli Azhari menegaskan, kebersihan bukan lagi sekadar kewajiban rutin, melainkan strategi utama pemasaran pariwisata daerah.
“Wisatawan saat ini sangat cerdas dan kritis. Mereka tidak hanya mencari pemandangan indah, tapi juga kenyamanan, keamanan, dan kebersihan. Ketika mereka turun dari kapal, berjalan di pinggir jalan, atau berkunjung ke tempat makan, hal pertama yang dinilai adalah kebersihan. Jika sampah berserakan, bau tidak sedap, atau saluran air tersumbat, citra Berau sebagai daerah wisata langsung runtuh seketika,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan masukan pelaku usaha pariwisata dan pengelola penginapan di kawasan Tanjung Redeb, Gunung Tabur, hingga pulau-pulau wisata.
Banyak tamu yang memuji keindahan laut dan pantai Berau, namun menyayangkan masih ditemukannya tumpukan sampah plastik di pinggir jalan, drainase yang tidak terawat, hingga penanganan sampah yang dianggap belum maksimal di beberapa titik strategis.
Pemerintah Kabupaten Berau pun kini menempatkan program kebersihan sebagai prioritas utama, terlebih di tengah kondisi efisiensi anggaran.
Langkah yang diambil bukan semata penambahan armada, melainkan perubahan perilaku dan penguatan peran serta masyarakat.
Kampanye “Berau Bersih” digalakkan, mulai dari pemilahan sampah di sumber, pengurangan plastik sekali pakai di lokasi wisata, hingga gerakan bersih-bersih rutin yang melibatkan perangkat desa, sekolah, paguyuban, dan ormas.
Masyarakat pun mulai menyadari peran masing-masing, pedagang, pemilik rumah makan, warga pinggir jalan, hingga pengemudi angkutan, kini diajak memandang sampah bukan sebagai urusan petugas kebersihan saja, tapi tanggung jawab bersama.
Semangatnya sederhana: Berau Bersih, Berau Menarik, Berau Sejahtera.
Kini, kebersihan ditetapkan sebagai modal dasar dan syarat mutlak menuju Berau sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Pemerintah berkomitmen akan memperketat pengawasan dan penegakan aturan kebersihan, sekaligus terus mengedukasi agar budaya bersih tumbuh dari hati sanubari warga.
Karena satu hal yang pasti: lingkungan yang bersih, rapi, dan asri adalah daya tarik paling ampuh untuk membuat wisatawan datang, kembali, dan mencintai Bumi Batiwakkal (bp).













