BerauKalimantan Timur

Isu Penolakan Suku Jawa Jadi Bupati Berau, Syarifatul Syadiah Tanggapi Dengan Santai Dan Bijak

14
×

Isu Penolakan Suku Jawa Jadi Bupati Berau, Syarifatul Syadiah Tanggapi Dengan Santai Dan Bijak

Sebarkan artikel ini

“Kalau bertanya pada saya: apakah orang Jawa boleh jadi Bupati Berau? Jawaban saya: Boleh, sangat boleh, bahkan sangat pantas asalkan ia punya kemampuan, punya visi, punya hati untuk rakyat, dan paham benar akan kebutuhan serta karakter daerah ini”

– Dr. Hj. Syarifatul Syadiah, S.Pd, M.Si

BERAUPEDIA.COM – Isu yang belakangan ini ramai dibahas di kalangan masyarakat dan kalangan politik Kabupaten Berau, terkait adanya suara atau kelompok yang menolak tokoh berlatar belakang suku Jawa untuk maju dan memimpin sebagai Bupati Berau, akhirnya mendapatkan tanggapan dari Anggota DPRD Provinsi Kaltim, Syarifatul Syadiah.

Menariknya, sosok ketua DPD Ikapakarti Berau yang dikenal dekat dengan masyarakat ini menanggapi isu sensitif tersebut dengan sikap yang sangat santai, tenang, namun penuh makna dan kedewasaan berpikir.

Menanggapi keriuhan yang sempat memanas itu, Syarifatul Syadiah justru tersenyum dan tidak terlihat khawatir atau terpancing emosi saat ditemui awak media, di sela-sela kegiatannya.

Ia menilai, perdebatan soal asal-usul suku calon pemimpin itu hal yang wajar terjadi dalam dinamika politik, namun tidak perlu dibesar-besarkan atau dijadikan benih perpecahan.

“Menurut saya, ini hal biasa saja, tidak perlu dibuat tegang atau emosi. Di mana pun itu, pasti ada saja pendapat yang beragam. Ada yang berpendapat harus orang lokal, ada juga yang berpendapat kemampuan lebih utama. Semua boleh berpendapat, itu hak demokrasi kita,” ujar Syarifatul dengan nada tenang dan santai.

Politisi yang juga aktif menjaga kerukunan antar umat beragama dan budaya ini kemudian menegaskan pandangannya yang sangat lugas.

Baginya, ukuran layak atau tidaknya seseorang menjadi pemimpin Kabupaten Berau tidak pernah dan tidak boleh ditentukan hanya dari apa sukunya, dari mana asal daerahnya, atau apa keturunannya.

“Kalau bertanya pada saya: apakah orang Jawa boleh jadi Bupati Berau? Jawaban saya: Boleh, sangat boleh, bahkan sangat pantas asalkan ia punya kemampuan, punya visi, punya hati untuk rakyat, dan paham benar akan kebutuhan serta karakter daerah ini,” tegasnya.

Syarifatul menjelaskan, Berau sejak dulu dikenal sebagai daerah yang terbuka, majemuk, dan hidup rukun berdampingan. Suku Bugis, Jawa, Banjar, Tidung, Kutai, Dayak, dan suku lainnya, semuanya sudah hidup, bekerja, dan membangun daerah ini berpuluh-puluh tahun lamanya.

Banyak warga dari etnis pendatang yang lahir, tumbuh, dan mengabdikan seluruh hidupnya di Berau, bahkan lebih mengenal seluk-beluk daerah ini dibandingkan mereka yang hanya mengaku asli namun tidak peduli pembangunan.

“Siapa pun yang tinggal di sini, yang berjuang di sini, yang anak cucunya ada di sini, yang hartanya dan masa depannya taruh di sini, maka ia adalah bagian dari keluarga besar Berau. Tidak ada istilah ‘orang luar’ kalau hatinya sudah menyatu dengan daerah ini,” tambahnya.

Ia mengingatkan kembali sejarah panjang Berau yang maju pesat justru karena keterbukaan dan persatuan lintas etnis. Menutup peluang hanya karena beda suku, kata Syarifatul, sama saja dengan membatasi kemajuan daerah sendiri.

“Kita lihat sejarah, pemimpin-pemimpin besar di Berau ada yang berlatar belakang beragam, dan mereka sukses membangun daerah karena mereka bekerja keras, jujur, dan mengutamakan kepentingan umum. Jadi, jangan kita pertajam perbedaan yang tidak perlu. Mari kita nilai seseorang dari karyanya, dari niatnya, dari kinerjanya, bukan dari asal-usulnya saja,” ucapnya santai namun tegas.

Terhadap kelompok yang bersikeras menolak, Syarifatul mengajak untuk saling memahami. Menurutnya, kekhawatiran sebagian masyarakat mungkin muncul karena kekhawatiran budaya lokal terabaikan.

Namun hal itu, menurutnya, justru menjadi tugas kita semua untuk memastikan pemimpin siapa pun nanti, wajib menjaga dan melestarikan budaya Berau.

“Kalau ada yang khawatir budaya kita hilang, ya kita kawal bersama. Tapi jangan jadikan suku sebagai pagar pembatas. Di mata hukum dan demokrasi, setiap warga negara yang memenuhi syarat punya hak yang sama untuk maju. Di mata rakyat, yang dipilih adalah yang paling bisa dipercaya dan paling bisa membawa Berau makmur,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Syarifatul kembali menegaskan sikap santainya. Ia berharap masyarakat Berau tetap dingin kepala, berpikir jernih, dan memilih pemimpin berdasarkan kualitas, rekam jejak, dan visi masa depan, bukan berdasarkan sentimen sempit yang justru merugikan persatuan.

“Intinya: Jangan terlalu dipikirkan berlebihan. Biarkan semua berproses. Biarkan rakyat yang menilai. Yang penting kita semua tetap satu Berau, tetap rukun, tetap maju bersama, apa pun sukunya,” pungkas Syarifatul Syadiah sembari tersenyum, mengakhiri percakapan dengan penuh kedewasaan (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *