
BERAUPEDIA — Gelombang protes keras melanda Kabupaten Berau akibat krisis kelistrikan yang melumpuhkan aktivitas warga sepekan terakhir.
Sejumlah elemen masyarakat turun ke jalan menggelar aksi demonstrasi yang dimulai dari Kantor PLN Berau dan berlanjut hingga ke Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Berau di Jalan Milono, Senin malam (26/10/2026) hingga Selasa dinihari.
Aksi yang berlangsung hingga larut malam tersebut dipicu oleh kemarahan warga atas pemadaman listrik berkepanjangan yang terjadi tanpa kejelasan pasti, mengganggu roda perekonomian, serta melumpuhkan aktivitas harian masyarakat luas.
Pemadaman listrik berkepanjangan ini bukan sekadar urusan kegelapan di malam hari, melainkan hantaman mematikan bagi urat nadi perekonomian lokal Berau. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), mulai dari usaha kuliner, jasa pendingin, percetakan, hingga ritel skala kecil—terpaksa menelan kerugian materiil yang tidak sedikit.
Bahan baku makanan yang membusuk akibat rusaknya rantai pendingin (cold chain) serta terhentinya operasional harian berpotensi memicu gelombang kerugian massal hingga ancaman gulung tikar.
Di sektor perdagangan umum, transaksi ekonomi terganggu drastis akibat matinya sistem pembayaran elektronik dan sarana komunikasi. Pengeluaran ekstra untuk membeli bahan bakar genset pun kian melambung, memangkas habis margin keuntungan para pedagang yang sudah terhimpit.
Situasi ini menegaskan bahwa setiap jam pemadaman tanpa kepastian secara langsung menggerus daya beli dan stabilitas ekonomi masyarakat bawah di Kabupaten Berau.
Bupati Berau, Hj. Sri Juniarsih Mas, turun langsung menemui massa pengunjuk rasa guna meredakan ketegangan dan memberikan penjelasan resmi.
Di hadapan warga yang geram, Bupati mengungkapkan bahwa pemadaman masif ini disebabkan oleh faktor alam, yakni rusaknya jalur interkoneksi akibat tertimpa pohon bangris.
“PLN sudah saya desak agar segera mempercepat perbaikan kerusakan yang terjadi,” ujar Bupati di tengah kerumunan massa.
Ia juga mengimbau agar masyarakat dapat bersabar, menahan diri, dan bersama-sama menjaga kondusifitas keamanan di tengah situasi darurat energi ini.
Kendati penjelasan terkait gangguan teknis telah disampaikan, massa pengunjuk rasa menilai alasan tersebut tidak lagi cukup untuk meredam kekecewaan publik yang sudah menumpuk selama sepekan.
Para demonstran secara tegas mendesak agar Pemerintah Kabupaten Berau tidak tinggal diam. Massa menuntut Bupati Berau agar segera mengambil langkah drastis dengan mengevaluasi total kinerja manajemen PLN Berau serta PT Indo Pusaka Berau (IPB).
Tak tanggung-tanggung, pengunjuk rasa juga menuntut pencopotan direktur PLN dan PT IPB sebagai bentuk pertanggungjawaban atas buruknya pelayanan publik yang dirasakan masyarakat Berau.
Hingga Selasa dinihari, aksi unjuk rasa berangsur-angsur kondusif setelah aparat kepolisian melakukan pengamanan ketat, sementara bola salju desakan evaluasi kini berada di tangan Pemerintah Kabupaten Berau untuk menindaklanjuti tuntutan warganya (bp).













