Tanjung Redeb

BEC 2026 Jadi Momentum Kenalkan Geopark Sangkulirang–Mangkalihat

60
×

BEC 2026 Jadi Momentum Kenalkan Geopark Sangkulirang–Mangkalihat

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com – Berau Ethno Carnival (BEC) 2026 tidak sekadar menghadirkan parade kostum dan keberagaman budaya. Perhelatan yang digelar Sabtu (26/9/2026) ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan Geopark Sangkulirang–Mangkalihat, sekaligus mengajak masyarakat menjaga kekayaan alam, geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya yang dimiliki Kabupaten Berau.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan kegiatan kebudayaan seperti BEC dapat menjadi media efektif untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah kepada masyarakat luas.

Salah satu langkah yang ditempuh Disbudpar Berau untuk memperkuat pesan tersebut adalah dengan mewajibkan seluruh peserta BEC 2026 membawa atau menampilkan logo Geopark Sangkulirang–Mangkalihat dalam penampilan mereka.

Langkah ini diharapkan membuat keberadaan Geopark Sangkulirang–Mangkalihat semakin dikenal masyarakat, sekaligus menghubungkan kegiatan budaya dengan upaya promosi dan pelestarian warisan daerah.

“Kita ingin momentum seperti ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan Geopark Sangkulirang–Mangkalihat kepada masyarakat luas. Bukan hanya mengenalkan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa kekayaan tersebut harus kita jaga bersama,” ujar Yudha.

Menurutnya, kekuatan pariwisata Berau tidak hanya bertumpu pada keindahan alam. Keberagaman budaya masyarakat juga menjadi bagian penting yang dapat memperkuat daya tarik pariwisata daerah.

“Berau Ethno Carnival ini bukan hanya tentang parade dan kostum. Ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa Berau memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, sekaligus memperkenalkan potensi pariwisata yang kita miliki,” ujarnya.

Yudha melihat kegiatan budaya memiliki daya jangkau yang luas. Ketika budaya ditampilkan dalam sebuah perhelatan besar, masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal berbagai potensi daerah, termasuk Geopark Sangkulirang–Mangkalihat.

Karena itu, promosi dan pelestarian harus berjalan beriringan.

“Ketika masyarakat mengenal dan merasa memiliki, tentu akan lebih mudah untuk bersama-sama menjaga. Jadi, promosi dan pelestarian harus berjalan beriringan,” katanya.

BEC 2026 menjadi gambaran keberagaman masyarakat Berau yang hadir dalam satu ruang. Beragam identitas budaya ditampilkan melalui kreativitas peserta.

Melalui kewajiban menampilkan logo Geopark Sangkulirang–Mangkalihat, panggung BEC juga dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi publik untuk memperkenalkan geopark kepada masyarakat.

Dengan demikian, kemeriahan Berau Ethno Carnival tidak berhenti pada parade budaya dan kostum, tetapi turut membawa pesan tentang pentingnya mengenal, mencintai, dan menjaga kekayaan alam serta budaya yang menjadi warisan Kabupaten Berau (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *