Tanjung Redeb

DTPHP Berau Perkuat Antisipasi Kemarau Ekstrem, Pompa Dan Drone Jadi Andalan

21
×

DTPHP Berau Perkuat Antisipasi Kemarau Ekstrem, Pompa Dan Drone Jadi Andalan

Sebarkan artikel ini


beraupedia.com Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau ekstrem yang berdampak terhadap sektor pertanian.

Kondisi panas dan kekurangan air mulai memengaruhi sejumlah lahan pertanian. Dampaknya, produksi tiga komoditas pangan strategis, yakni padi, jagung dan cabai, mengalami penurunan.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan kekurangan air menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan produktivitas tanaman menurun.

Kondisi tersebut juga diperparah angin kencang yang meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit.

“Prioritas strategis kita tiga ya, padi, jagung sama cabai. Tiga-tiganya menunjukkan penurunan,” kata Lita.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengancam pencapaian target produksi pertanian Berau pada 2026. Terlebih, musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang sehingga berpotensi menggeser jadwal tanam petani.

Untuk mengantisipasi kekurangan air, DTPHP Berau telah menyalurkan bantuan pompa kepada petani yang lahannya mengalami kekeringan, terutama di wilayah yang sistem irigasinya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air tanaman.

“Tidak semua lokasi memang ada pompa. Jadi yang masih bisa panen bulan ini ya karena ada bantuan pompa, mereka mengompa dari sumber air,” tuturnya.

Selain persoalan air, DTPHP juga memperkuat pengendalian hama dan penyakit tanaman melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal). Tim diterjunkan ke lokasi berdasarkan laporan petani sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum serangan meluas.

“Kalau ada laporan serangan hama, tim dari dinas turun ke lapangan untuk melakukan gerakan pengendalian. Kita turun bantu melakukan penyemprotan bagi hama dan penyakit,” ungkapnya.

Gerdal telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Dumaring, Semurut, Buyung-Buyung dan Labanan.

Dalam pengendalian tersebut, DTPHP juga memanfaatkan drone untuk melakukan penyemprotan.

Penggunaan teknologi itu dinilai lebih efektif sekaligus mempercepat proses pengendalian di lahan pertanian.

“Sepanjang petani mengeluh ada serangan hama yang lumayan, tim kita turun. Kita punya drone, jadi kita Gerdal pakai drone karena lebih efektif, lebih singkat waktu pengendaliannya,” katanya.

Meski demikian, Lita mengakui tidak seluruh tanaman yang terserang hama dapat diselamatkan, terutama apabila tingkat serangannya sudah parah.

Karena itu, laporan cepat dari petani menjadi faktor penting agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.

Sementara untuk tanaman yang masih mampu berproduksi, DTPHP meminta petani tetap melanjutkan perawatan dengan penyiraman secara efektif untuk menjaga kondisi tanaman hingga masa panen.

Di sisi lain, panjangnya musim kemarau juga berpotensi menggeser jadwal tanam. Kondisi cuaca saat ini dinilai belum memungkinkan untuk melakukan penanaman secara optimal.

“Rencana tanam kita di Agustus dan September ini kemungkinan akan bergeser sampai Oktober, bahkan mungkin nanti November, Desember baru penambahan tanam, sehingga panen nanti baru di 2027,” tandasnya (bp).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *